<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>qayoozian</title>
    <link>https://qayoozian.writeas.com/</link>
    <description>A nest of my self-indulgent writings. </description>
    <pubDate>Wed, 12 Aug 2026 21:28:10 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>sunric!AU written with love by @aneyefora on twitter.</title>
      <link>https://qayoozian.writeas.com/sunric-au-written-with-love-by-ataneyefora-on-twitter?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[sunric!AU written with love by @aneyefora on twitter.&#xA;&#xA;—-&#xA;&#xA;Kata orang, jendela SMP adalah kacamata yang terlalu sempit untuk melihat dunia. Kukira, orang-orang yang bilang begitu, pasti belum pernah ketemu Sunu.&#xA;&#xA;Aku pernah bercanda kalau di kepala Sunu mungkin ada sekolah khusus pendidikan anak usia dewasa di mana kurikulumnya belajar soal menyikapi beragam masalah. Dari masalah keluarga hingga cinta. Dan Sunu adalah kepala sekolahnya, menteri pendidikannya, penentu kebijakannya, juga gurunya. Dia, jadi semua yang mengajari.&#xA;&#xA;Tapi mungkin kalau ada orang dewasa—yang entah juga tolok ukurnya dari mana—mendengar pandangan Sunu, mereka hanya akan berpendapat kalau dia anak rebel biasa yang sok tahu perihal bagaimana menghadapi dunia. Orang dewasa, yang udah gede, entah mengapa selalu merasa superior. Selalu merasa paling mengerti. Padahal aku tahu kalau mereka masih diam-diam mengidamkan tidur siang di hari-hari sibuk mereka yang menjenuhkan. Cuma kalau sudah masalah siapa yang paling jago menghadapi hidup, mereka akan maju paling depan dan mengakui kalau merekalah juaranya.&#xA;&#xA;Nggak apa. Nanti akan ada juga fasenya aku merasakan yang begitu. Sekarang, aku cuma bocah umur empat belas tahun, yang mengagumi sahabatku sendiri, berikut pola pikirnya yang kukira jauh lebih dewasa dibanding oleh anak-anak seumurannya.&#xA;&#xA;Aku pernah cerita ke bunda. Kalau temanku—atau bukan, aku nggak tahu, soalnya sering kali aku berharap lebih—adalah orang yang pintar. Tapi bukan dalam hal akademik. Dari kisahku, bunda bilang, Sunu visioner. Dan faktor paling dominannya mungkin berasal dari ibunya yang membesarkan Sunu sendirian sebagai orang tua tunggal. Aku nggak paham kenapa, namun kedewasaan itu, kata bundaku, bukan karena anugerah. Ia dipupuk, dipelajari, diterapkan. Dan ibu Sunu mungkin telah memberi makan anaknya dengan pemahaman soal itu selama bertahun-tahun.&#xA;&#xA;Makanya, ketika kulihat Sunu bersikap begini, aku tahu kalau apapun yang terjadi di kepalanya di usianya yang masih empat belas tahun, Sunu masih tetap anak empat belas tahun yang pernah nggak punya jawaban untuk teka-teki dunia. Termasuk ketika dia bilang kalau dia sudah bertemu bapaknya.&#xA;&#xA;Begini yang kumaksud adalah sikap pasifnya yang, ternyata, tak bisa aku hadapi. Sunu lebih banyak diam, bahkan ketika aku mengajaknya untuk menghabiskan waktu istirahat di belakang sekolah kami. Satu-satunya sudut kumuh di antara kemewahan bangunan ini yang dicat warna putih gading. Menghadap tembok belakang yang kusam dan berlumut. Kami jongkok berdua. Aku menghabiskan Beng-beng sementara memandang tanah di antara kakinya, menghitung semut-semut yang lewat sambi berasumsi. Menekuni apa saja di kepalanya yang tak sanggup aku pahami.&#xA;&#xA;Beberapa menit sebelumnya, Sunu bilang padaku, “Ibuk mau menikah lagi.” &#xA;&#xA;“Serius?”&#xA;&#xA;“Serius,” katanya, “Sama bapak aku.”&#xA;&#xA;“Bapakmu?”&#xA;&#xA;Sunu menoleh ke arahku, lalu memandangku dengan pandangan yang bisu. Sepinya sorot mata itu membuatku bertanya-tanya bagaimana perasaan Sunu saat ini. Abu-abu di sana terlalu pucat dan aku takut itu akan menenggelamkan Sunu sendiri pada kedalaman perasaan yang asing, gelap, dan melenyapkan, saat itu juga.&#xA;&#xA;“Bayangin, Ric,” tukas Sunu sambil memandang kedua sepatunya. “Bertahun- tahun aku hidup tanpa pernah tahu bapakku siapa. Terus tiba-tiba, ibuk datang bawa laki- laki, dan ibuk bilang dia bapakku. Bapak kandungku.”&#xA;&#xA;Sunu terengah-engah meskipun ia tidak baru saja berlari.&#xA;&#xA;“Aku harus menerima laki-laki itu nggak hanya sebagai suami ibu, tapi juga sebagai bapakku.”&#xA;&#xA;Ada banyak sekali elemen yang ini kupertanyakan dari bagaimana reaksi Sunu sekarang. Kepala bocahku berpikiran kalau Sunu semestinya bahagia. Tapi melihat Sunu kacau begini, aku tahu masalahnya pasti lebih dari sekadar ibunya akan menikah lagi. Ada sesuatu yang lebih kompleks dan lebih sulit dipahami oleh Sunu sendiri, sebagai seorang anak juga seorang lelaki. Buatku dan kepalaku yang isinya tak selapang Sunu, kalau aku jadi Sunu, aku mungkin akan bahagia. Karena aku akhirnya akan punya bapak setelah lama tidak.&#xA;&#xA;Makanya reaksi Sunu yang demikian jadi membuatku bingung harus bersikap seperti apa. Apa yang di depanku sekarang, ekspresi Sunu, dan bagaimana dia terlihat tidak senang, membuatku ingin mengusap kepalanya. Siapa tahu aku bisa tahu apa isinya lewat sentuhan itu.&#xA;&#xA;“Kamu nggak seneng bakal punya bapak?”&#xA;&#xA;Sunu melihatku dengan tatapan kosong, “Aku nggak ngerti kenapa dia baru datang sekarang. Kenapa nggak dari dulu? Kenapa dia nggak merawat aku dari dulu? Kenapa dia biarin ibuk sendirian?”&#xA;&#xA;Aku terdiam.&#xA;&#xA;“Semua kesendirian aku selama ini, juga kesendirian ibuk, selalu &#xA;bikin aku bertanya-tanya selama bertahun-tahun ini,” kata Sunu. “Bapakkku ini, orangnya, sebrengsek apa?”&#xA;&#xA;Dan aku jadi ingat cerita-cerita Sunu ketika dulu dia dirundung oleh teman SD-nya karena tak punya bapak. Juga kisahnya yang tersenyum kecut ketika semua anak seumuran Sunu di kompleks perumahannya menghabiskan sore bersama ayah mereka dengan bermain basket atau berlatih sepeda. Sunu yang selalu gigit jari saat ia terbiasa pulang menggunakan bus atau transportasi lainnya kalau ibunya tak bisa menjemput karena ada pekerjaan yang sulit ditinggalkan. Semua kesepian itu tak pernah sepadan oleh kehadiran laki-laki yang tiba-tiba hadir, mengatakan kalau dirinya adalah bapak kandung Sunu, dan minta diakui begitu. Buat Sunu, semua rasa sakit yang dulu-dulu itu, tak akan pernah sepadan dengan kehadiran yang tiba-tiba, bahkan dengan sejuta janji soal bahagia.&#xA;&#xA;Aku menatap Sunu yang terlihat semakin kacau.&#xA;&#xA;Kalian belum lupa, ‘kan, kalau di kepala Sunu ini, ada sekolah khusus pendidikan untuk menjadi dewasa? Kukira sekarang, sekolah itu kini tutup. Karena teori dalam kurikulum ternyata tidak relevan dengan kenyataan. Ia melenceng jauh meski sudah disusun sedemikian rapi.&#xA;Dan aku paham mengapa bisa begitu. Karena ini menyangkut ibunya. Sunu hanya bisa begini kalau sudah menyangkut itu.&#xA;&#xA;“Orang brengsek macam apa yang udah ninggalin aku dan ibuk, terus tiba-tiba datang lagi, bilang mau menikah sama ibuk,” suara Sunu bergetar. “Ric, gimana caranya aku bisa menerima dia tanpa mengingat semua rasa sakit yang aku rasain waktu dia nggak ada?”&#xA;&#xA;Dari jendela SMP, ada cerita tentang banyak siswa yang ngeri melihat dunia dari sudut pandang yang batasannya adalah seragam putih biru yang sudah kusam di bagian ujungnya. Tapi Sunu, dia lebih berani. Dia melampaui dua sudut siku-siku itu, memandang jauh ke depan, menuju suaka yang mungkin tak akan bisa kupahami di usiaku yang masih empat belas.&#xA;&#xA;Makanya sekarang aku hanya bisa mengusap kepalanya. Entah apakah itu akan berdampak sesuatu, tapi kuharap begitu.&#xA;&#xA;Karena Sunu terlihat marah, dan bingung, juga sakit hati. Ia terlihat hilang di kepala dan asumsinya sendiri. Aku ingin mengejarnya, aku ingin ikut tersesat bersamanya, aku ingin juga berlari-lari di ruangan yang menjebaknya. Aku ingin menemaninya, tapi aku tidak tahu mana pintu yang tepat untuk kumasuki.&#xA;&#xA;Mungkin, aku nggak bisa memahami dia sepenuhnya. Aku tadi bahkan sempat berpikir kalau Sunu semestinya bahagia. Tapi apa yang terjadi sekarang, membuatku makin yakin, kalau jendela SMP punya sudut yang banyak sekali. Dan tak semuanya bisa dimengerti oleh Sunu. Juga, tak semuanya bisa dimengerti oleh aku.&#xA;&#xA;“Menurut kamu, aku harus gimana, Eric?”&#xA;&#xA;Aku menghela napas. Kuraih tangannya, lalu kuusap pelan. Sunu memandangku, meminta jawaban, meminta saran. Tapi aku tahu aku tidak punya itu. Jadi aku terus mengusap tangannya, menenangkan badai di peredaran darahnya.&#xA;&#xA;“Aku nggak tahu kamu harus gimana, Sunu, karena aku juga nggak ngerti,” ujarku. “Tapi apapun keadaan ke depannya, gimanapun kacaunya, gimanapun bingungnya, aku akan selalu nemenin kamu.”&#xA;&#xA;Karena, Sunu, bisaku cuma segitu. Kuharap kamu bisa memakluminya.&#xA;&#xA;Jadi, kuputuskan kalau di kepalaku, akan kubangun juga sekolah yang sama dengan milik Sunu. Tapi tak akan kususun kurikulumnya soal teori menjadi dewasa. Akan kubuat himpunan materi soal mengerti, soal memahami, soal menemani. Karena bencana akan selalu ada, dan kukira kita semua harus selalu siap menghadapinya.&#xA;&#xA;Di genggamanku, ada tangan Sunu. Di kepalaku, ada rencana untuk menemani Sunu sesusah apapun keadaannya. Jadi, sewaktu seutas senyum Sunu tersungging dan dieratkannya genggaman tangan itu, aku tahu Sunu memaklumiku serta memaklumi kekuranganku yang tak mampu memberikan penyelesaian buat masalahnya.&#xA;&#xA;Tapi aku berjanji aku akan ada.&#xA;&#xA;Dan, Sunu, semoga itu cukup, ya?]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>sunric!AU written with love by @aneyefora on twitter.</p>

<p>—-</p>

<p>Kata orang, jendela SMP adalah kacamata yang terlalu sempit untuk melihat dunia. Kukira, orang-orang yang bilang begitu, pasti belum pernah ketemu Sunu.</p>

<p>Aku pernah bercanda kalau di kepala Sunu mungkin ada sekolah khusus pendidikan anak usia dewasa di mana kurikulumnya belajar soal menyikapi beragam masalah. Dari masalah keluarga hingga cinta. Dan Sunu adalah kepala sekolahnya, menteri pendidikannya, penentu kebijakannya, juga gurunya. Dia, jadi semua yang mengajari.</p>

<p>Tapi mungkin kalau ada orang dewasa—yang entah juga tolok ukurnya dari mana—mendengar pandangan Sunu, mereka hanya akan berpendapat kalau dia anak rebel biasa yang sok tahu perihal bagaimana menghadapi dunia. Orang dewasa, yang udah gede, entah mengapa selalu merasa superior. Selalu merasa paling mengerti. Padahal aku tahu kalau mereka masih diam-diam mengidamkan tidur siang di hari-hari sibuk mereka yang menjenuhkan. Cuma kalau sudah masalah siapa yang paling jago menghadapi hidup, mereka akan maju paling depan dan mengakui kalau merekalah juaranya.</p>

<p>Nggak apa. Nanti akan ada juga fasenya aku merasakan yang begitu. Sekarang, aku cuma bocah umur empat belas tahun, yang mengagumi sahabatku sendiri, berikut pola pikirnya yang kukira jauh lebih dewasa dibanding oleh anak-anak seumurannya.</p>

<p>Aku pernah cerita ke bunda. Kalau temanku—atau bukan, aku nggak tahu, soalnya sering kali aku berharap lebih—adalah orang yang pintar. Tapi bukan dalam hal akademik. Dari kisahku, bunda bilang, Sunu visioner. Dan faktor paling dominannya mungkin berasal dari ibunya yang membesarkan Sunu sendirian sebagai orang tua tunggal. Aku nggak paham kenapa, namun kedewasaan itu, kata bundaku, bukan karena anugerah. Ia dipupuk, dipelajari, diterapkan. Dan ibu Sunu mungkin telah memberi makan anaknya dengan pemahaman soal itu selama bertahun-tahun.</p>

<p>Makanya, ketika kulihat Sunu bersikap <em>begini</em>, aku tahu kalau apapun yang terjadi di kepalanya di usianya yang masih empat belas tahun, Sunu masih tetap anak empat belas tahun yang pernah nggak punya jawaban untuk teka-teki dunia. Termasuk ketika dia bilang kalau dia sudah bertemu bapaknya.</p>

<p><em>Begini</em> yang kumaksud adalah sikap pasifnya yang, ternyata, tak bisa aku hadapi. Sunu lebih banyak diam, bahkan ketika aku mengajaknya untuk menghabiskan waktu istirahat di belakang sekolah kami. Satu-satunya sudut kumuh di antara kemewahan bangunan ini yang dicat warna putih gading. Menghadap tembok belakang yang kusam dan berlumut. Kami jongkok berdua. Aku menghabiskan Beng-beng sementara memandang tanah di antara kakinya, menghitung semut-semut yang lewat sambi berasumsi. Menekuni apa saja di kepalanya yang tak sanggup aku pahami.</p>

<p>Beberapa menit sebelumnya, Sunu bilang padaku, “Ibuk mau menikah lagi.”</p>

<p>“Serius?”</p>

<p>“Serius,” katanya, “Sama bapak aku.”</p>

<p>“Bapakmu?”</p>

<p>Sunu menoleh ke arahku, lalu memandangku dengan pandangan yang bisu. Sepinya sorot mata itu membuatku bertanya-tanya bagaimana perasaan Sunu saat ini. Abu-abu di sana terlalu pucat dan aku takut itu akan menenggelamkan Sunu sendiri pada kedalaman perasaan yang asing, gelap, dan melenyapkan, saat itu juga.</p>

<p>“Bayangin, Ric,” tukas Sunu sambil memandang kedua sepatunya. “Bertahun- tahun aku hidup tanpa pernah tahu bapakku siapa. Terus tiba-tiba, ibuk datang bawa laki- laki, dan ibuk bilang dia bapakku. Bapak kandungku.”</p>

<p>Sunu terengah-engah meskipun ia tidak baru saja berlari.</p>

<p>“Aku harus menerima laki-laki itu nggak hanya sebagai suami ibu, tapi juga sebagai bapakku.”</p>

<p>Ada banyak sekali elemen yang ini kupertanyakan dari bagaimana reaksi Sunu sekarang. Kepala bocahku berpikiran kalau Sunu semestinya bahagia. Tapi melihat Sunu kacau begini, aku tahu masalahnya pasti lebih dari sekadar ibunya akan menikah lagi. Ada sesuatu yang lebih kompleks dan lebih sulit dipahami oleh Sunu sendiri, sebagai seorang anak juga seorang lelaki. Buatku dan kepalaku yang isinya tak selapang Sunu, kalau aku jadi Sunu, aku mungkin akan bahagia. Karena aku akhirnya akan punya bapak setelah lama tidak.</p>

<p>Makanya reaksi Sunu yang demikian jadi membuatku bingung harus bersikap seperti apa. Apa yang di depanku sekarang, ekspresi Sunu, dan bagaimana dia terlihat tidak senang, membuatku ingin mengusap kepalanya. Siapa tahu aku bisa tahu apa isinya lewat sentuhan itu.</p>

<p>“Kamu nggak seneng bakal punya bapak?”</p>

<p>Sunu melihatku dengan tatapan kosong, “Aku nggak ngerti kenapa dia baru datang sekarang. Kenapa nggak dari dulu? Kenapa dia nggak merawat aku dari dulu? Kenapa dia biarin ibuk sendirian?”</p>

<p>Aku terdiam.</p>

<p>“Semua kesendirian aku selama ini, juga kesendirian ibuk, selalu
bikin aku bertanya-tanya selama bertahun-tahun ini,” kata Sunu. “Bapakkku ini, orangnya, sebrengsek apa?”</p>

<p>Dan aku jadi ingat cerita-cerita Sunu ketika dulu dia dirundung oleh teman SD-nya karena tak punya bapak. Juga kisahnya yang tersenyum kecut ketika semua anak seumuran Sunu di kompleks perumahannya menghabiskan sore bersama ayah mereka dengan bermain basket atau berlatih sepeda. Sunu yang selalu gigit jari saat ia terbiasa pulang menggunakan bus atau transportasi lainnya kalau ibunya tak bisa menjemput karena ada pekerjaan yang sulit ditinggalkan. Semua kesepian itu tak pernah sepadan oleh kehadiran laki-laki yang tiba-tiba hadir, mengatakan kalau dirinya adalah bapak kandung Sunu, dan minta diakui begitu. Buat Sunu, semua rasa sakit yang dulu-dulu itu, tak akan pernah sepadan dengan kehadiran yang tiba-tiba, bahkan dengan sejuta janji soal bahagia.</p>

<p>Aku menatap Sunu yang terlihat semakin kacau.</p>

<p>Kalian belum lupa, ‘kan, kalau di kepala Sunu ini, ada sekolah khusus pendidikan untuk menjadi dewasa? Kukira sekarang, sekolah itu kini tutup. Karena teori dalam kurikulum ternyata tidak relevan dengan kenyataan. Ia melenceng jauh meski sudah disusun sedemikian rapi.
Dan aku paham mengapa bisa begitu. Karena ini menyangkut ibunya. Sunu hanya bisa begini kalau sudah menyangkut itu.</p>

<p>“Orang brengsek macam apa yang udah ninggalin aku dan ibuk, terus tiba-tiba datang lagi, bilang mau menikah sama ibuk,” suara Sunu bergetar. “Ric, gimana caranya aku bisa menerima dia tanpa mengingat semua rasa sakit yang aku rasain waktu dia nggak ada?”</p>

<p>Dari jendela SMP, ada cerita tentang banyak siswa yang ngeri melihat dunia dari sudut pandang yang batasannya adalah seragam putih biru yang sudah kusam di bagian ujungnya. Tapi Sunu, dia lebih berani. Dia melampaui dua sudut siku-siku itu, memandang jauh ke depan, menuju suaka yang mungkin tak akan bisa kupahami di usiaku yang masih empat belas.</p>

<p>Makanya sekarang aku hanya bisa mengusap kepalanya. Entah apakah itu akan berdampak sesuatu, tapi kuharap begitu.</p>

<p>Karena Sunu terlihat marah, dan bingung, juga sakit hati. Ia terlihat hilang di kepala dan asumsinya sendiri. Aku ingin mengejarnya, aku ingin ikut tersesat bersamanya, aku ingin juga berlari-lari di ruangan yang menjebaknya. Aku ingin menemaninya, tapi aku tidak tahu mana pintu yang tepat untuk kumasuki.</p>

<p>Mungkin, aku nggak bisa memahami dia sepenuhnya. Aku tadi bahkan sempat berpikir kalau Sunu semestinya bahagia. Tapi apa yang terjadi sekarang, membuatku makin yakin, kalau jendela SMP punya sudut yang banyak sekali. Dan tak semuanya bisa dimengerti oleh Sunu. Juga, tak semuanya bisa dimengerti oleh aku.</p>

<p>“Menurut kamu, aku harus gimana, Eric?”</p>

<p>Aku menghela napas. Kuraih tangannya, lalu kuusap pelan. Sunu memandangku, meminta jawaban, meminta saran. Tapi aku tahu aku tidak punya itu. Jadi aku terus mengusap tangannya, menenangkan badai di peredaran darahnya.</p>

<p>“Aku nggak tahu kamu harus gimana, Sunu, karena aku juga nggak ngerti,” ujarku. “Tapi apapun keadaan ke depannya, gimanapun kacaunya, gimanapun bingungnya, aku akan selalu nemenin kamu.”</p>

<p><em>Karena, Sunu, bisaku cuma segitu. Kuharap kamu bisa memakluminya.</em></p>

<p>Jadi, kuputuskan kalau di kepalaku, akan kubangun juga sekolah yang sama dengan milik Sunu. Tapi tak akan kususun kurikulumnya soal teori menjadi dewasa. Akan kubuat himpunan materi soal mengerti, soal memahami, soal menemani. Karena bencana akan selalu ada, dan kukira kita semua harus selalu siap menghadapinya.</p>

<p>Di genggamanku, ada tangan Sunu. Di kepalaku, ada rencana untuk menemani Sunu sesusah apapun keadaannya. Jadi, sewaktu seutas senyum Sunu tersungging dan dieratkannya genggaman tangan itu, aku tahu Sunu memaklumiku serta memaklumi kekuranganku yang tak mampu memberikan penyelesaian buat masalahnya.</p>

<p>Tapi aku berjanji aku akan ada.</p>

<p><em>Dan, Sunu, semoga itu cukup, ya?</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qayoozian.writeas.com/sunric-au-written-with-love-by-ataneyefora-on-twitter</guid>
      <pubDate>Sat, 19 Feb 2022 12:43:57 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>10 Years Later.</title>
      <link>https://qayoozian.writeas.com/10-years-later?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[10 Years Later.&#xA;&#xA;cw: mention of death, nudity, smoking, specific mention of erection&#xA;&#xA;—-&#xA;&#xA;“Bajunya dipake kali.”&#xA;&#xA;“Kenapa? Takut ngaceng lagi?”&#xA;&#xA;Dia tertawa terbahak-bahak, “Bukan, ntar kamu masuk angin.”&#xA;&#xA;Reaksiku yang tak acuh membuatnya menggerutu dan terpaksa bangun dari tempat tidur. Dia masih telanjang bulat dan mengantuk, namun rela bangkit menyerahkan hoodie kesayangannya yang bau asap rokok untuk dikenakan olehku yang tidak berpakaian. &#xA;&#xA;“Kamu kayak bayi, baju aja harus dipakein.”&#xA;&#xA;Sentuhannya tidak lagi membuat bulu roma merinding seperti sepuluh tahun yang lalu, namun aku tetap berjinjit menciumnya sebagai bentuk rasa terima kasih. Ia pun tersenyum, lalu memelukku. &#xA;&#xA;“Aku anget ya?”&#xA;&#xA;“Iya,” balasnya dengan suara serak khas bangun tidur, “Dah sana bikin sarapan. Nanti aku yang cuci piring.”&#xA;&#xA;Beberapa tepukan ringan di bokongku membuatnya terkekeh. Dasar lelaki tua bangka mesum.&#xA;&#xA;Kubiarkan ia merokok di balkon kamar kami sembari aku membuka bungkus roti tawar, yang ketika kutengok masa kadaluarsanya, ternyata tanggal kemarin.&#xA;&#xA;“Yong, rotinya udah kadaluarsa kemarin. Masih mau makan ini nggak?”&#xA;&#xA;“Woles.” Jawabnya sedikit berteriak, mungkin takut aku tidak dengar, “Kalo kita mati keracunan, masuk nerakanya gandengan.”&#xA;&#xA;“Lah, tolol.”&#xA;&#xA;Lelaki itu menertawakanku yang mengumpat sambil batuk-batuk. Mungkin memang sudah saatnya kami pergi ke Rumah Sakit untuk memeriksa paru-parunya. Atau mungkin, sudah saatnya buat dia untuk berhenti merokok.&#xA;&#xA;Sembari memanggang roti, aku menyadari ada yang hilang dan dirampas dari kami berdua seiring dengan berjalannya usia. Selain dengan sentuhannya yang tak lagi mengirimkan listrik hingga ke sekujur tubuh, intensitas pesan singkat tak penting pun berkurang dari ponsel kami berdua. &#xA;&#xA;Kupikir aku kehilangan, namun ternyata tidak juga.&#xA;&#xA;Kupandangi punggung telanjangnya dari balik kaca. Ia masih lelaki dengan tubuh yang kurus, sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Masih sosok berapi-api yang bergerak seperti bintang jatuh, lurus dan cepat dibakar semangat dan ambisi. Perbedaan yang terasa, mungkin sikap dan pola pikirnya.&#xA;&#xA;Aku suka. Sangat menyukai bagaimana Yong bertumbuh dewasa seiring dengan berjalannya usia. Dan aku juga suka mengingat bahwa diriku ikut tumbuh bersamanya, ada di sisinya selama satu dekade.&#xA;&#xA;Kami berdua punya fase naik dan turunnya hidup masing-masing, dan semuanya tidak mudah. Rasanya seperti ular yang menanggalkan sisik dan kulitnya yang cantik karena sebuah keharusan bernama tumbuh dewasa.&#xA;&#xA;“Sayang, udah mateng belum?”&#xA;&#xA;Aku tersadar dari lamunan dan disadarkan oleh kenyataan roti di panggangan yang nyaris gosong.&#xA;&#xA;“Udah!”&#xA;&#xA;“Yes!”&#xA;&#xA;Aku tersenyum melihatnya berlari dari balkon ke dapur. Kakinya yang panjang membuat tubuh jangkung itu langsung sampai ke tempatku dalam waktu hitungan detik. &#xA;&#xA;“Thanks.” diciumnya kepalaku setelah ia menggigit ujung roti tawar. Sudah pasti, ada minyak atau remah-remah roti yang menempel di rambutku.&#xA;&#xA;“Aku baru keramas dua hari yang lalu, lho.”&#xA;&#xA;“Ya udah sih, keramas lagi? Nanti aku keramasin.”&#xA;&#xA;Kurebut rokok di tangannya yang masih menyala, “Ini batang ke berapa?”&#xA;&#xA;Dua jari diacungkan sebagai jawaban. Mulutnya terlalu penuh dengan roti tawar yang ia kunyah dengan semangat.&#xA;&#xA;“Awas cepat mati.” Ucapku, kemudian menghisap marlboro miliknya.&#xA;&#xA;“Kenapa jadi kamu yang nyebat?”&#xA;&#xA;“Biar kita matinya barengan.”&#xA;&#xA;Lagi-lagi ia tertawa, tentunya dengan serpihan roti tawar yang menyembur dari mulut. &#xA;&#xA;Aku tak tahan untuk meledeknya, “Dasar cowok jorok.” &#xA;&#xA;“Tapi kamu sayang?”&#xA;&#xA;Tidak perlu jawaban, dia tahu bahwa aku masih mencintainya hingga detik ini. Meskipun tiada lagi percikan yang meletup-letup seperti kembang api di langit malam tahun baru, aku dan dia tetap saling mencintai seperti sepuluh tahun yang lalu.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>10 Years Later.</p>

<p>cw: mention of death, nudity, smoking, specific mention of erection</p>

<p>—-</p>

<p>“Bajunya dipake kali.”</p>

<p>“Kenapa? Takut ngaceng lagi?”</p>

<p>Dia tertawa terbahak-bahak, “Bukan, ntar kamu masuk angin.”</p>

<p>Reaksiku yang tak acuh membuatnya menggerutu dan terpaksa bangun dari tempat tidur. Dia masih telanjang bulat dan mengantuk, namun rela bangkit menyerahkan hoodie kesayangannya yang bau asap rokok untuk dikenakan olehku yang tidak berpakaian.</p>

<p>“Kamu kayak bayi, baju aja harus dipakein.”</p>

<p>Sentuhannya tidak lagi membuat bulu roma merinding seperti sepuluh tahun yang lalu, namun aku tetap berjinjit menciumnya sebagai bentuk rasa terima kasih. Ia pun tersenyum, lalu memelukku.</p>

<p>“Aku anget ya?”</p>

<p>“Iya,” balasnya dengan suara serak khas bangun tidur, “Dah sana bikin sarapan. Nanti aku yang cuci piring.”</p>

<p>Beberapa tepukan ringan di bokongku membuatnya terkekeh. Dasar lelaki tua bangka mesum.</p>

<p>Kubiarkan ia merokok di balkon kamar kami sembari aku membuka bungkus roti tawar, yang ketika kutengok masa kadaluarsanya, ternyata tanggal kemarin.</p>

<p>“Yong, rotinya udah kadaluarsa kemarin. Masih mau makan ini nggak?”</p>

<p>“Woles.” Jawabnya sedikit berteriak, mungkin takut aku tidak dengar, “Kalo kita mati keracunan, masuk nerakanya gandengan.”</p>

<p>“Lah, tolol.”</p>

<p>Lelaki itu menertawakanku yang mengumpat sambil batuk-batuk. Mungkin memang sudah saatnya kami pergi ke Rumah Sakit untuk memeriksa paru-parunya. Atau mungkin, sudah saatnya buat dia untuk berhenti merokok.</p>

<p>Sembari memanggang roti, aku menyadari ada yang hilang dan dirampas dari kami berdua seiring dengan berjalannya usia. Selain dengan sentuhannya yang tak lagi mengirimkan listrik hingga ke sekujur tubuh, intensitas pesan singkat tak penting pun berkurang dari ponsel kami berdua.</p>

<p>Kupikir aku kehilangan, namun ternyata tidak juga.</p>

<p>Kupandangi punggung telanjangnya dari balik kaca. Ia masih lelaki dengan tubuh yang kurus, sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Masih sosok berapi-api yang bergerak seperti bintang jatuh, lurus dan cepat dibakar semangat dan ambisi. Perbedaan yang terasa, mungkin sikap dan pola pikirnya.</p>

<p>Aku suka. Sangat menyukai bagaimana Yong bertumbuh dewasa seiring dengan berjalannya usia. Dan aku juga suka mengingat bahwa diriku ikut tumbuh bersamanya, ada di sisinya selama satu dekade.</p>

<p>Kami berdua punya fase naik dan turunnya hidup masing-masing, dan semuanya tidak mudah. Rasanya seperti ular yang menanggalkan sisik dan kulitnya yang cantik karena sebuah keharusan bernama <em>tumbuh dewasa</em>.</p>

<p>“Sayang, udah mateng belum?”</p>

<p>Aku tersadar dari lamunan dan disadarkan oleh kenyataan roti di panggangan yang nyaris gosong.</p>

<p>“Udah!”</p>

<p>“Yes!”</p>

<p>Aku tersenyum melihatnya berlari dari balkon ke dapur. Kakinya yang panjang membuat tubuh jangkung itu langsung sampai ke tempatku dalam waktu hitungan detik.</p>

<p>“<em>Thanks</em>.” diciumnya kepalaku setelah ia menggigit ujung roti tawar. Sudah pasti, ada minyak atau remah-remah roti yang menempel di rambutku.</p>

<p>“Aku baru keramas dua hari yang lalu, lho.”</p>

<p>“Ya udah sih, keramas lagi? Nanti aku keramasin.”</p>

<p>Kurebut rokok di tangannya yang masih menyala, “Ini batang ke berapa?”</p>

<p>Dua jari diacungkan sebagai jawaban. Mulutnya terlalu penuh dengan roti tawar yang ia kunyah dengan semangat.</p>

<p>“Awas cepat mati.” Ucapku, kemudian menghisap marlboro miliknya.</p>

<p>“Kenapa jadi kamu yang nyebat?”</p>

<p>“Biar kita matinya barengan.”</p>

<p>Lagi-lagi ia tertawa, tentunya dengan serpihan roti tawar yang menyembur dari mulut.</p>

<p>Aku tak tahan untuk meledeknya, “Dasar cowok jorok.”</p>

<p>“Tapi kamu sayang?”</p>

<p>Tidak perlu jawaban, dia tahu bahwa aku masih mencintainya hingga detik ini. Meskipun tiada lagi percikan yang meletup-letup seperti kembang api di langit malam tahun baru, aku dan dia tetap saling mencintai seperti sepuluh tahun yang lalu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qayoozian.writeas.com/10-years-later</guid>
      <pubDate>Sun, 28 Nov 2021 08:29:17 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sunu dan Ibuk vs The World — 2</title>
      <link>https://qayoozian.writeas.com/sunu-dan-ibuk-vs-the-world-2?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sunu dan Ibuk vs The World — 2&#xA;&#xA;Putraku Sunu jarang sekali menangis, bahkan ketika ia masih menjadi bayi yang hanya tau cara berkomunikasi lewat tangisan. !--more-- Anak itu seperti mengerti secara otomatis dengan kondisinya yang hanya hidup berdua saja dengan Ibu yang juga lelah karena bekerja. Namun sayangnya, hal itu terbawa hingga ia tumbuh besar.&#xA;&#xA;Sunu memang jarang menangis, namun ia mengekspresikan isi hatinya dengan cara lain. Yaitu dengan berteriak dan mengeluarkan amarah yang amat besar.&#xA;&#xA;“He punched me!” Thomas, si anak laki-laki berbadan besar berteriak sambil menangis.&#xA;&#xA;“You mocked me!”&#xA;&#xA;“I told the truth!”&#xA;&#xA;Kugenggam tangan mungil Sunu yang mengepal bersiap untuk menumpahkan tinjunya. Karena ia duduk menempel di sampingku, dapat kurasakan bahunya yang bergetar menahan marah.&#xA;&#xA;“Thomas,” Kali ini wali kelas anakku yang ambil alih, “Kamu bilang apa ke Sunu hingga dia marah?”&#xA;&#xA;Alih-alih menjawab, anak itu justru mencebik dan menyilangkan kedua tangan di depan dada. Dapat kutangkap kesan arogan menyebalkan khas anak kecil yang sok jagoan.&#xA;&#xA;“Sunu nggak punya Bapak, makanya dia sial terus nggak pernah bisa masukin bola ke gawang.”&#xA;&#xA;“Nggak ada hubungannya!” Sunu berteriak membalas.&#xA;&#xA;“Ada!”&#xA;&#xA;“Nggak!”&#xA;&#xA;“Ada hubungannya! Nggak ada yang ajarin kamu main bola karena nggak punya Bapak!”&#xA;&#xA;Keputusan yang kuambil di masa lalu atas dasar keinginan untuk dicintai sebanyak-banyaknya hanya oleh darah dagingku sendiri, ternyata justru menyusahkan dia yang kuharap bisa membuatku bahagia. Aku yang dulu sangat percaya diri berpikir bisa melindungi putraku dari berbagai macam masalah. Namun ternyata aku gagal. Aku tidak mampu melindungi dia dari rasa sakit.&#xA;&#xA;“Aku nggak butuh bapak buat ajarin main bola!”&#xA;&#xA;“Enough, boys.” suara wali kelas anakku yang tegas menghentikan pertengkaran Sunu dan Thomas.&#xA;&#xA;Sunu dan Thomas masing-masing mendapat konsekuensi dari perbuatan mereka. Keduanya kehilangan waktu recess selama lima belas menit dan harus tinggal di dalam kelas dengan pengawasan guru selama satu minggu. Putraku, Sunu, yang gemar bergerak tidak terima dengan hukuman yang ia terima karena dia tidak merasa bersalah.&#xA;&#xA;“But, Miss Hannah––”&#xA;&#xA;“No recess.”&#xA;&#xA;Sunu yang kecewa meninggalkan ruangan guru tanpa permisi, membuatku kembali meminta maaf pada wali kelas Sunu dan dua orangtua Thomas yang masih berada di sana. Ayah Thomas meminta maaf padaku setelahnya (sekedar basa-basi, aku tahu itu) dilanjutkan dengan Thomas dan ibunya yang mengikuti si Ayah namun dengan wajah terpaksa. Jujur saja, aku tidak peduli mereka tulus atau tidak. Karena saat ini yang aku khawatirkan adalah anakku yang marah dan kecewa dengan hukumannya.&#xA;&#xA;Sesaat setelah aku beranjak dari ruang guru, tak jauh dari tempatku Sunu menunggu di taman sekolah. Tak heran ia masih duduk di sana. Peraturan sekolah ini yang mengharuskan semua muridnya untuk tidak keluar area sekolah tanpa orangtua atau wali murid.&#xA;&#xA;“Hi,” kuusap rambut Sunu yang sedang duduk di ayunan. “Mau cerita, nggak?”&#xA;&#xA;Sunu masih menunduk tak mau menatapku. Aku kemudian bersimpuh untuk menyejajarkan pandangan kami berdua. &#xA;&#xA;“Kalau Sunu nggak nyaman, what if we pretend that we’re friends, not a son and his mum. You can call me by my name.” Jari kelingking aku julurkan ke hadapan Sunu. Pinky promise, memberikan kepastian bahwa ia boleh memanggilku dengan nama saja.&#xA;&#xA;“Really?”&#xA;&#xA;“Mhmm.”&#xA;&#xA;“Okay.”&#xA;&#xA;“So, how do you feel?”&#xA;&#xA;Raut wajah Sunu kembali mengeras, “Not so good. I’m disappointed.”&#xA;&#xA;“Sama siapa?”&#xA;&#xA;“Miss Hannah.” bisik Sunu lemah, “I can’t play tag tomorrow. I love playing tag.”&#xA;&#xA;Aku menatap baik-baik wajah putraku yang sedang dilanda kekecewaan besar. Bagi orang dewasa, menanggung konsekuensi dan tanggung jawab atas semua keputusan yang telah dibuat adalah hal biasa meskipun kadang memang menyebalkan. Namun untuk sekelas anak berusia lima tahun, dilarang melakukan aktivitas favoritnya adalah sebuah bencana. &#xA;&#xA;Satu hal penting yang aku pelajari di kelas parenting (saat memutuskan untuk mempertahankan Sunu dalam kandungan, aku mengikuti banyak sekali kelas-kelas tentang cara merawat anak) adalah dengan memberi validasi atas perasaan yang anak-anak rasakan.&#xA;&#xA;“I can tell that you’re disappointed, sweetie.” kugenggam kedua tangannya, “And it’s okay to feel that way.”&#xA;&#xA;“Is it?”&#xA;&#xA;Aku mengangguk kemudian kuarahkan tangan Sunu untuk menyentuh dadanya, “Boleh banget, dong. Karena apapun yang Sunu rasakan di sini, nggak akan pernah bisa bohong.”&#xA;&#xA;“How do you know?”&#xA;&#xA;Skeptikal dengan banyak hal yang berhubungan dengan perasaan, Sunu benar-benar putraku. Little did he know, aku pernah menanyakan hal yang sama pada ayahnya sepuluh tahun yang lalu. Miris rasanya mengingat hal ini terjadi saat aku dan ayahnya sudah berpisah. &#xA;&#xA;“How are you feeling?”&#xA;&#xA;“Bad.”&#xA;&#xA;“Can you pretend to be happy while you are, in fact, sad?”&#xA;&#xA;“Oh. I can’t.” poni anakku bergoyang saat ia kepalanya menggeleng. “Berarti, besok aku bisa marah sama Miss Hannah, dong?”&#xA;&#xA;“Hey! Nggak lah.”&#xA;&#xA;“But, why?!” tanya Sunu tidak terima.&#xA;&#xA;“Karena Miss Hannah nggak salah.”&#xA;&#xA;“Wait. I don’t get it.”&#xA;&#xA;Kakiku pegal jika duduk bersimpuh terlalu lama untuk menyejajarkan pandangan kami berdua,  namun rasa tersebut segera kutepis jauh-jauh. Kutatap bola mata putraku yang kelam seperti samudra. Ada kejujuran dan kekecewaan terpancar dari keduanya. &#xA;&#xA;“Well, Sunu harus bisa bedakan mana yang namanya feeling dan action.”&#xA;&#xA;“Mmhm.”&#xA;&#xA;“Feeling itu sumbernya ada di hati, tapi action sumbernya ada di sini.”&#xA;&#xA;Sunu menyentuh keningnya sendiri dengan jari telunjuknya mengikuti gerakanku, “Kepala?”&#xA;&#xA;“Apa yang ada di dalam kepala, Sayang?”&#xA;&#xA;“Otak.”&#xA;&#xA;“Exactly. Sunu masih ingat fungsi otak manusia untuk apa?”&#xA;&#xA;“Untuk berpikir?”&#xA;&#xA;Pertanyaan barusan mengingatkanku pada Sunu saat ia masih baru belajar berjalan. Putraku sebagai seorang bayi terlampau lincah dan aktif untukku yang tidak suka aktivitas dengan yang banyak geraknya. Sebagai kegiatan penyeimbang, aku suka memutar video animasi tentang sains yang diunggah secara gratis di internet. Usahaku membuahkan hasil. Sunu kecil senang sekali jika sudah masuk waktunya menonton televisi. Alhasil, ia cukup banyak tahu tentang fenomena alam dan bagian-bagian tubuh manusia sejak dini. &#xA;&#xA;“Awesome!” Air muka Sunu perlahan berubah dari kecewa menjadi senang secara perlahan. Putraku, memang dari kecil ia paling suka dipuji. “Menurut Sunu, marah-marah ke ibu guru salah, nggak?”&#xA;&#xA;“Hmmm.” Sunu menyilangkan kedua tangan di depan dada pertanda ia sedang berpikir atau membuat keputusan. “Depends?”&#xA;&#xA;Memandang wajah Sunu seringkali mengingatkanku pada ayahnya. Namun melihat bagaimana ia bersikap sehari-hari, tidak bisa bohong bahwa aku seperti berkaca melihat diri sendiri di masa lalu sebagai anak-anak. Kami berdua sama-sama keras kepala dan sulit diajak bernegosiasi, merasa pendapat sendiri adalah yang paling benar. &#xA;&#xA;Kalau boleh jujur, Sunu dengan sifatnya yang seperti ini membuatku merasa sedih. Dari semua hal yang bisa diturunkan padanya, kenapa harus satu hal yang sering menyulitkanku membangun hubungan baik dengan orang lain? Insiden di sekolah yang baru saja terjadi adalah suatu pukulan telak untukku; keegoisan masa mudaku untuk punya anak supaya bisa disayang secara tulus, ternyata hanya membawa petaka untuk dia yang tidak pernah minta dilahirkan ke dunia.&#xA;&#xA;“Depends on?”&#xA;&#xA;“Kalau salah ya harus dimarahi.”&#xA;&#xA;“Memangnya, aku pernah marah sama Sunu kalau kamu salah?”&#xA;&#xA;Sunu kembali berpikir sejenak, kemudian ia menggeleng pelan. “Nope. Kamu nggak pernah marah-marah sama aku.”&#xA;&#xA;“Itulah bedanya feeling dan action, Sunu.” &#xA;&#xA;Pelan-pelan aku beri putraku pengertian tentang bagaimana ia boleh merasakan apapun dan tidak apa-apa jika perasaan tersebut membuatnya tidak nyaman. Karena begitulah rasa. Tidak selamanya dia manis seperti cokelat dan membuat mereka yang merasakan jadi senang. &#xA;&#xA;“While action is the way you behave based on your feelings.” Lagi-lagi aku raih jari-jari mungilnya dan kukecup dengan sayang. “I kissed your fingers because this is how I express my love to you. Do you like it?”&#xA;&#xA;“I do.”&#xA;&#xA;“Is it okay for me to kiss your fingers once again?”&#xA;&#xA;“Sure.”&#xA;&#xA;“This is an example of an appropriate action. You allowed me to kiss your fingers. I’m happy and so are you.” Lagi-lagi aku cium dengan sayang jari-jarinya. “Tapi, apa Sunu senang kalau aku marah-marah saat Sunu melakukan kesalahan?”&#xA;&#xA;Ia menggeleng dengan kencang, “Nope.”&#xA;&#xA;“Itulah yang dinamakan aksi, Sayang.” Balasku sembari terus menatap kedua matanya dengan dalam, “Aksi adalah... apapun yang kamu lakukan, dengan badanmu, saat kamu merasakan sesuatu.”&#xA;&#xA;Penjelasanku barusan membuatku meringis. Jujur saja, aku agak kesulitan merangkai kata-kata yang mudah dicerna anak-anak untuk masalah ini.&#xA;&#xA;“Sunu punya otak yang sehat dan bisa dipakai untuk berpikir. Apakah yang kamu lakukan bakal melukai orang lain? Apakah aksi itu akan melukai diri sendiri?”&#xA;&#xA;Sunu terdiam sejenak, kemudian ia bertanya, “Jadi, ketika aku kecewa dengan Miss Hannah, atau siapapun, aku harus berpikir sebelum merespon?”&#xA;&#xA;“Ideally, yes. But most of the time, it’s difficult to control our actions. It takes a lot of time to practice. Worry not, you still have plenty of them— so much time to learn.”&#xA;&#xA;Anakku hanya mengedikkan bahu setelahnya dan berbisik bahwa dia mengerti. Besok, Sunu berjanji akan minta maaf pada Miss Hannah karena telah membuat keributan dan karena tidak sopan telah meninggalkan ruangan guru tanpa permisi setelah diberi hukuman.&#xA;&#xA;Sore ini kami berjalan pulang dengan bergandengan tangan menuju tempat parkir. Aku dan putraku, Sunu, kami berdua sama-sama belajar hal baru dengan kejadian barusan. Aku yang baru saja sadar bahwa tugasku jadi orangtua tunggal akan semakin berat seiring dengan berjalannya waktu, dan putraku yang baru saja mengenal cara membedakan aksi dan perasaan.&#xA;&#xA;Semua ini tidak mudah; meninggalkan zona nyaman atas pemikiran dan pandangan yang pernah kita anut di waktu yang lampau menuju hal baru yang asing untuk diri sendiri. Tapi tidak apa-apa. Seperti yang aku katakan pada Sunu sore ini, kita masih punya banyak, banyak sekali waktu untuk belajar.&#xA;&#xA;Toh, durasinya memang sepanjang usia kita menetap di dunia, kan?]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://qayoozian.writeas.com/tag:Sunu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Sunu</span></a> dan Ibuk vs The World — 2</p>

<p>Putraku Sunu jarang sekali menangis, bahkan ketika ia masih menjadi bayi yang hanya tau cara berkomunikasi lewat tangisan.  Anak itu seperti mengerti secara otomatis dengan kondisinya yang hanya hidup berdua saja dengan Ibu yang juga lelah karena bekerja. Namun sayangnya, hal itu terbawa hingga ia tumbuh besar.</p>

<p>Sunu memang jarang menangis, namun ia mengekspresikan isi hatinya dengan cara lain. Yaitu dengan berteriak dan mengeluarkan amarah yang amat besar.</p>

<p>“<em>He punched me!</em>” Thomas, si anak laki-laki berbadan besar berteriak sambil menangis.</p>

<p>“<em>You mocked me!</em>”</p>

<p>“<em>I told the truth!</em>”</p>

<p>Kugenggam tangan mungil Sunu yang mengepal bersiap untuk menumpahkan tinjunya. Karena ia duduk menempel di sampingku, dapat kurasakan bahunya yang bergetar menahan marah.</p>

<p>“Thomas,” Kali ini wali kelas anakku yang ambil alih, “Kamu bilang apa ke Sunu hingga dia marah?”</p>

<p>Alih-alih menjawab, anak itu justru mencebik dan menyilangkan kedua tangan di depan dada. Dapat kutangkap kesan arogan menyebalkan khas anak kecil yang sok jagoan.</p>

<p>“Sunu nggak punya Bapak, makanya dia sial terus nggak pernah bisa masukin bola ke gawang.”</p>

<p>“Nggak ada hubungannya!” Sunu berteriak membalas.</p>

<p>“Ada!”</p>

<p>“Nggak!”</p>

<p>“Ada hubungannya! Nggak ada yang ajarin kamu main bola karena nggak punya Bapak!”</p>

<p>Keputusan yang kuambil di masa lalu atas dasar keinginan untuk dicintai sebanyak-banyaknya hanya oleh darah dagingku sendiri, ternyata justru menyusahkan dia yang kuharap bisa membuatku bahagia. Aku yang dulu sangat percaya diri berpikir bisa melindungi putraku dari berbagai macam masalah. Namun ternyata aku gagal. Aku tidak mampu melindungi dia dari rasa sakit.</p>

<p>“Aku nggak butuh bapak buat ajarin main bola!”</p>

<p>“<em>Enough, boys</em>.” suara wali kelas anakku yang tegas menghentikan pertengkaran Sunu dan Thomas.</p>

<p>Sunu dan Thomas masing-masing mendapat konsekuensi dari perbuatan mereka. Keduanya kehilangan waktu recess selama lima belas menit dan harus tinggal di dalam kelas dengan pengawasan guru selama satu minggu. Putraku, Sunu, yang gemar bergerak tidak terima dengan hukuman yang ia terima karena dia tidak merasa bersalah.</p>

<p>“<em>But, Miss Hannah––</em>”</p>

<p><em>“No recess.”</em></p>

<p>Sunu yang kecewa meninggalkan ruangan guru tanpa permisi, membuatku kembali meminta maaf pada wali kelas Sunu dan dua orangtua Thomas yang masih berada di sana. Ayah Thomas meminta maaf padaku setelahnya (sekedar basa-basi, aku tahu itu) dilanjutkan dengan Thomas dan ibunya yang mengikuti si Ayah namun dengan wajah terpaksa. Jujur saja, aku tidak peduli mereka tulus atau tidak. Karena saat ini yang aku khawatirkan adalah anakku yang marah dan kecewa dengan hukumannya.</p>

<p>Sesaat setelah aku beranjak dari ruang guru, tak jauh dari tempatku Sunu menunggu di taman sekolah. Tak heran ia masih duduk di sana. Peraturan sekolah ini yang mengharuskan semua muridnya untuk tidak keluar area sekolah tanpa orangtua atau wali murid.</p>

<p><em>“Hi,”</em> kuusap rambut Sunu yang sedang duduk di ayunan. “Mau cerita, nggak?”</p>

<p>Sunu masih menunduk tak mau menatapku. Aku kemudian bersimpuh untuk menyejajarkan pandangan kami berdua.</p>

<p>“Kalau Sunu nggak nyaman, <em>what if we pretend that we’re friends, not a son and his mum. You can call me by my name</em>.” Jari kelingking aku julurkan ke hadapan Sunu. <em>Pinky promise</em>, memberikan kepastian bahwa ia boleh memanggilku dengan nama saja.</p>

<p><em>“Really?”</em></p>

<p>“Mhmm.”</p>

<p>“<em>Okay.”</em></p>

<p><em>“So, how do you feel?”</em></p>

<p>Raut wajah Sunu kembali mengeras, <em>“Not so good. I’m disappointed.”</em></p>

<p>“Sama siapa?”</p>

<p>“Miss Hannah.” bisik Sunu lemah, <em>“I can’t play tag tomorrow. I love playing tag.”</em></p>

<p>Aku menatap baik-baik wajah putraku yang sedang dilanda kekecewaan besar. Bagi orang dewasa, menanggung konsekuensi dan tanggung jawab atas semua keputusan yang telah dibuat adalah hal biasa meskipun kadang memang menyebalkan. Namun untuk sekelas anak berusia lima tahun, dilarang melakukan aktivitas favoritnya adalah sebuah bencana.</p>

<p>Satu hal penting yang aku pelajari di kelas parenting (saat memutuskan untuk mempertahankan Sunu dalam kandungan, aku mengikuti banyak sekali kelas-kelas tentang cara merawat anak) adalah dengan memberi validasi atas perasaan yang anak-anak rasakan.</p>

<p><em>“I can tell that you’re disappointed, sweetie.”</em> kugenggam kedua tangannya, <em>“And it’s okay to feel that way.”</em></p>

<p><em>“Is it?”</em></p>

<p>Aku mengangguk kemudian kuarahkan tangan Sunu untuk menyentuh dadanya, “Boleh banget, dong. Karena apapun yang Sunu rasakan di sini, nggak akan pernah bisa bohong.”</p>

<p><em>“How do you know?”</em></p>

<p>Skeptikal dengan banyak hal yang berhubungan dengan perasaan, Sunu benar-benar putraku. <em>Little did he know</em>, aku pernah menanyakan hal yang sama pada ayahnya sepuluh tahun yang lalu. Miris rasanya mengingat hal ini terjadi saat aku dan ayahnya sudah berpisah.</p>

<p><em>“How are you feeling?”</em></p>

<p><em>“Bad.”</em></p>

<p>“Can you pretend to be happy while you are, in fact, sad?”</p>

<p><em>“Oh. I can’t.</em>” poni anakku bergoyang saat ia kepalanya menggeleng. “Berarti, besok aku bisa marah sama Miss Hannah, dong?”</p>

<p>“Hey! Nggak lah.”</p>

<p>“But, why?!” tanya Sunu tidak terima.</p>

<p>“Karena Miss Hannah nggak salah.”</p>

<p><em>“Wait. I don’t get it.”</em></p>

<p>Kakiku pegal jika duduk bersimpuh terlalu lama untuk menyejajarkan pandangan kami berdua,  namun rasa tersebut segera kutepis jauh-jauh. Kutatap bola mata putraku yang kelam seperti samudra. Ada kejujuran dan kekecewaan terpancar dari keduanya.</p>

<p>“Well, Sunu harus bisa bedakan mana yang namanya feeling dan action.”</p>

<p>“Mmhm.”</p>

<p>“Feeling itu sumbernya ada di hati, tapi action sumbernya ada di sini.”</p>

<p>Sunu menyentuh keningnya sendiri dengan jari telunjuknya mengikuti gerakanku, “Kepala?”</p>

<p>“Apa yang ada di dalam kepala, Sayang?”</p>

<p>“Otak.”</p>

<p>“<em>Exactly</em>. Sunu masih ingat fungsi otak manusia untuk apa?”</p>

<p>“Untuk berpikir?”</p>

<p>Pertanyaan barusan mengingatkanku pada Sunu saat ia masih baru belajar berjalan. Putraku sebagai seorang bayi terlampau lincah dan aktif untukku yang tidak suka aktivitas dengan yang banyak geraknya. Sebagai kegiatan penyeimbang, aku suka memutar video animasi tentang sains yang diunggah secara gratis di internet. Usahaku membuahkan hasil. Sunu kecil senang sekali jika sudah masuk waktunya menonton televisi. Alhasil, ia cukup banyak tahu tentang fenomena alam dan bagian-bagian tubuh manusia sejak dini.</p>

<p><em>“Awesome!”</em> Air muka Sunu perlahan berubah dari kecewa menjadi senang secara perlahan. Putraku, memang dari kecil ia paling suka dipuji. “Menurut Sunu, marah-marah ke ibu guru salah, nggak?”</p>

<p>“Hmmm.” Sunu menyilangkan kedua tangan di depan dada pertanda ia sedang berpikir atau membuat keputusan. <em>“Depends?”</em></p>

<p>Memandang wajah Sunu seringkali mengingatkanku pada ayahnya. Namun melihat bagaimana ia bersikap sehari-hari, tidak bisa bohong bahwa aku seperti berkaca melihat diri sendiri di masa lalu sebagai anak-anak. Kami berdua sama-sama keras kepala dan sulit diajak bernegosiasi, merasa pendapat sendiri adalah yang paling benar.</p>

<p>Kalau boleh jujur, Sunu dengan sifatnya yang seperti ini membuatku merasa sedih. Dari semua hal yang bisa diturunkan padanya, kenapa harus satu hal yang sering menyulitkanku membangun hubungan baik dengan orang lain? Insiden di sekolah yang baru saja terjadi adalah suatu pukulan telak untukku; keegoisan masa mudaku untuk punya anak supaya bisa disayang secara tulus, ternyata hanya membawa petaka untuk dia yang tidak pernah minta dilahirkan ke dunia.</p>

<p>“Depends on?”</p>

<p>“Kalau salah ya harus dimarahi.”</p>

<p>“Memangnya, aku pernah marah sama Sunu kalau kamu salah?”</p>

<p>Sunu kembali berpikir sejenak, kemudian ia menggeleng pelan. “Nope. Kamu nggak pernah marah-marah sama aku.”</p>

<p>“Itulah bedanya feeling dan action, Sunu.”</p>

<p>Pelan-pelan aku beri putraku pengertian tentang bagaimana ia boleh merasakan apapun dan tidak apa-apa jika perasaan tersebut membuatnya tidak nyaman. Karena begitulah rasa. Tidak selamanya dia manis seperti cokelat dan membuat mereka yang merasakan jadi senang.</p>

<p><em>“While action is the way you behave based on your feelings.”</em> Lagi-lagi aku raih jari-jari mungilnya dan kukecup dengan sayang. <em>“I kissed your fingers because this is how I express my love to you. Do you like it?”</em></p>

<p><em>“I do.”</em></p>

<p><em>“Is it okay for me to kiss your fingers once again?”</em></p>

<p><em>“Sure.”</em></p>

<p><em>“This is an example of an appropriate action. You allowed me to kiss your fingers. I’m happy and so are you.”</em> Lagi-lagi aku cium dengan sayang jari-jarinya. “Tapi, apa Sunu senang kalau aku marah-marah saat Sunu melakukan kesalahan?”</p>

<p>Ia menggeleng dengan kencang, <em>“Nope.”</em></p>

<p>“Itulah yang dinamakan aksi, Sayang.” Balasku sembari terus menatap kedua matanya dengan dalam, “Aksi adalah... apapun yang kamu lakukan, dengan badanmu, saat kamu merasakan sesuatu.”</p>

<p>Penjelasanku barusan membuatku meringis. Jujur saja, aku agak kesulitan merangkai kata-kata yang mudah dicerna anak-anak untuk masalah ini.</p>

<p>“Sunu punya otak yang sehat dan bisa dipakai untuk berpikir. Apakah yang kamu lakukan bakal melukai orang lain? Apakah aksi itu akan melukai diri sendiri?”</p>

<p>Sunu terdiam sejenak, kemudian ia bertanya, “Jadi, ketika aku kecewa dengan Miss Hannah, atau siapapun, aku harus berpikir sebelum merespon?”</p>

<p><em>“Ideally, yes. But most of the time, it’s difficult to control our actions. It takes a lot of time to practice. Worry not, you still have plenty of them— so much time to learn.”</em></p>

<p>Anakku hanya mengedikkan bahu setelahnya dan berbisik bahwa dia mengerti. Besok, Sunu berjanji akan minta maaf pada Miss Hannah karena telah membuat keributan dan karena tidak sopan telah meninggalkan ruangan guru tanpa permisi setelah diberi hukuman.</p>

<p>Sore ini kami berjalan pulang dengan bergandengan tangan menuju tempat parkir. Aku dan putraku, Sunu, kami berdua sama-sama belajar hal baru dengan kejadian barusan. Aku yang baru saja sadar bahwa tugasku jadi orangtua tunggal akan semakin berat seiring dengan berjalannya waktu, dan putraku yang baru saja mengenal cara membedakan aksi dan perasaan.</p>

<p>Semua ini tidak mudah; meninggalkan zona nyaman atas pemikiran dan pandangan yang pernah kita anut di waktu yang lampau menuju hal baru yang asing untuk diri sendiri. Tapi tidak apa-apa. Seperti yang aku katakan pada Sunu sore ini, kita masih punya banyak, banyak sekali waktu untuk belajar.</p>

<p>Toh, durasinya memang sepanjang usia kita menetap di dunia, kan?</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qayoozian.writeas.com/sunu-dan-ibuk-vs-the-world-2</guid>
      <pubDate>Sun, 19 Sep 2021 06:44:33 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sunu dan Ibuk vs The World - 1</title>
      <link>https://qayoozian.writeas.com/sunu-and-ibuk-vs-the-world-1?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sunu dan Ibuk vs The World - 1&#xA;&#xA;Hingga detik ini, aku masih menganggap keinginan memiliki anak adalah sebentuk keegoisan manusia.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Ada lebih dari tujuh miliar orang hidup di dunia dan tidak semua mendapat kehidupan yang layak. Di negaraku sendiri bahkan ada yang tega mengambil dana bantuan operasional sekolah untuk anak-anak yang kurang mampu. Bayangkan jika setiap kepala yang hidup dan bernapas punya keinginan untuk punya keturunan, berapa banyak lagi tambahan manusia yang harus diurus pemerintah yang tidak kompeten ini? Membayangkan sosok anak kecil mengemis di jalan membuat hatiku sakit sekali.&#xA;&#xA;Meskipun kenyataan di lapangan telah memberiku bayangan bahwa punya keturunan lebih banyak ruginya dan tidak membuat keadaan dunia menjadi lebih baik, pada akhirnya aku mengandung dan melahirkan seorang anak. Benar-benar sebuah ironi. Aku yakin, diriku di masa lalu akan menertawakan keputusan yang kubuat untuknya di masa sekarang&#xA;&#xA;Dia lahir saat aku sedang ada di puncak karirku. Tas-tas kulit harga jutaan terpajang dengan rapi di lemari kaca, ponsel dan laptop termutakhir terpampang di meja, semua itu sudah biasa. Namun di saat yang sama aku sering merasa kesepian dan butuh teman. Sayangnya, aku terlalu takut untuk berkomitmen jangka panjang dengan seorang pria.&#xA;&#xA;Alasannya, sosok lelaki selalu mengingatkanku akan patah hati—patah hati atas lemparan benda tumpul terdekat yang mampir di badan, patah hati atas tidak adanya proteksi di hari paling menyeramkan seorang anak yang tak berdaya, patah hati atas ketiadaan permintaan maaf saat kalimat tersebut satu-satunya yang diharapkan setelah menangis meraung-raung semalaman.&#xA;&#xA;(Dibanding takut lelaki, rasanya kata benci pada kaum adam lebih tepat digunakan untuk mendeskripsikan situasiku)&#xA;&#xA;Toh, akhirnya kuputuskan untuk mempertahankan janin itu. Di pagi hari pada bulan April, seorang bayi berjenis kelamin laki-laki lahir atas keegoisanku yang ingin dicintai sebanyak-banyaknya.&#xA;&#xA;Lagi-lagi dunia seperti memberikan tamparan keras padaku. Aku, yang membenci laki-laki, melahirkan sosok yang kubenci setengah mati. &#xA;&#xA;—&#xA;&#xA;Anak lelakiku yang bernama Sunu tumbuh dengan baik tanpa sosok Ayah di sisinya.&#xA;&#xA;Membesarkan putraku seorang diri bukanlah perihal mudah. Tapi, mengingat betapa bencinya aku dengan lelaki dan melihat betapa sehat dan lebarnya senyum anakku setiap hari, rasanya aku ingin berteriak kencang di depan para kaum adam, “Lihat! Aku seorang perempuan, mampu membesarkan sendiri anak laki-laki menjadi manusia yang baik! Tidak tumbuh seperti kalian!”&#xA;&#xA;(Aku pun melakukannya di depan orangtuaku yang dulu sempat menentang kehadiran janin ini.)&#xA;&#xA;Namun seiring dengan berjalannya waktu, tidak bisa disangkal bahwa sosok yang kubesarkan dengan tanganku sendiri ini punya fisik yang terlampau mirip dengan ayahnya. Lelaki yang sangat aku cintai tetapi pada akhirnya kuminta untuk pergi. Rambutnya yang hitam legam agak ikal dan tebal jika dibiarkan panjang. Bola matanya gelap seperti lautan yang dalam––mengingatkanku pada mata ayahnya yang kerap kuselami saat kami bercinta dulu. Tidak bisa kusangkal, sejauh apapun lelaki itu kuminta untuk pergi, aku masih bisa melihat jejaknya di sampingku.&#xA;&#xA;Suatu hari disaat pekerjaanku sedang banyak dan membuat sakit kepala, wali kelas Sunu menelpon. Katanya, putraku berkelahi dengan teman sekelas dan orangtua anak itu tidak terima. Kuputuskan untuk pulang kerja lebih awal dan segera kutemui putraku di sekolah.&#xA;&#xA;Hal pertama yang aku lihat sore itu adalah sepasang suami istri muda dengan wajah tidak ramah. Pegangan tanganku pada tas kulit yang kubawa semakin erat. Semua ini mengingatkanku pada diriku sendiri puluhan tahun lalu saat disidang di sekolah. Banyak sekali kilasan memori tidak menyenangkan mendadak berputar di kepala. Tentang anggapan orangtuaku yang gagal mendidik anaknya, atau tentangku yang nakal dan menyusahkan semua orang.&#xA;&#xA;Aku benci mengingat bahwa semua orang dewasa di saat itu tidak memberi validasi atas perasaanku yang terluka dan tidak mau terima alasan kenapa aku berbuat onar.&#xA;&#xA;“Saya ayahnya Thomas.” suara berat dengan aksen amerika yang kental memaksaku untuk kembali dari kenangan masa lalu. “Anak Anda meninju wajah anak saya sampai biru.”&#xA;&#xA;“Boleh saya bicara dengan anak saya dulu?”&#xA;&#xA;Wali kelas Sunu mempersilahkan aku untuk menghampiri putraku di sudut ruangan. Ia duduk dengan kedua tangan erat mencengkram kedua lutut. Kepala menunduk dan tidak kulihat ia mau menatap semua orang di ruangan tersebut.&#xA;&#xA;“Hey, Love.” bisikku di dekat Sunu, tanganku mengelus pelan bahunya yang tegang. “Ibuk di sini.”&#xA;&#xA;Sunu perlahan mengangkat wajahnya. Terlihat bahwa ia sangat marah dengan tanda gigi yang bergemeretak. “Aku nggak suka. Aku nggak suka Thomas bilang hidupku sial karena gak punya Bapak.”&#xA;&#xA;Hatiku seakan retak dan hancur mendengar suara putraku yang menahan tangis karena dihina keluarganya tidak lengkap.&#xA;&#xA;–&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://qayoozian.writeas.com/tag:Sunu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Sunu</span></a> dan Ibuk vs The World – 1</p>

<p>Hingga detik ini, aku masih menganggap keinginan memiliki anak adalah sebentuk keegoisan manusia.</p>



<p>Ada lebih dari tujuh miliar orang hidup di dunia dan tidak semua mendapat kehidupan yang layak. Di negaraku sendiri bahkan ada yang tega mengambil dana bantuan operasional sekolah untuk anak-anak yang kurang mampu. Bayangkan jika setiap kepala yang hidup dan bernapas punya keinginan untuk punya keturunan, berapa banyak lagi tambahan manusia yang harus diurus pemerintah yang tidak kompeten ini? Membayangkan sosok anak kecil mengemis di jalan membuat hatiku sakit sekali.</p>

<p>Meskipun kenyataan di lapangan telah memberiku bayangan bahwa punya keturunan lebih banyak ruginya dan tidak membuat keadaan dunia menjadi lebih baik, pada akhirnya aku mengandung dan melahirkan seorang anak. Benar-benar sebuah ironi. Aku yakin, diriku di masa lalu akan menertawakan keputusan yang kubuat untuknya di masa sekarang</p>

<p>Dia lahir saat aku sedang ada di puncak karirku. Tas-tas kulit harga jutaan terpajang dengan rapi di lemari kaca, ponsel dan laptop termutakhir terpampang di meja, semua itu sudah biasa. Namun di saat yang sama aku sering merasa kesepian dan butuh teman. Sayangnya, aku terlalu takut untuk berkomitmen jangka panjang dengan seorang pria.</p>

<p>Alasannya, sosok lelaki selalu mengingatkanku akan patah hati—patah hati atas lemparan benda tumpul terdekat yang mampir di badan, patah hati atas tidak adanya proteksi di hari paling menyeramkan seorang anak yang tak berdaya, patah hati atas ketiadaan permintaan maaf saat kalimat tersebut satu-satunya yang diharapkan setelah menangis meraung-raung semalaman.</p>

<p>(Dibanding takut lelaki, rasanya kata benci pada kaum adam lebih tepat digunakan untuk mendeskripsikan situasiku)</p>

<p>Toh, akhirnya kuputuskan untuk mempertahankan janin itu. Di pagi hari pada bulan April, seorang bayi berjenis kelamin laki-laki lahir atas keegoisanku yang ingin dicintai sebanyak-banyaknya.</p>

<p>Lagi-lagi dunia seperti memberikan tamparan keras padaku. Aku, yang membenci laki-laki, melahirkan sosok yang kubenci setengah mati.</p>

<p>—</p>

<p>Anak lelakiku yang bernama Sunu tumbuh dengan baik tanpa sosok Ayah di sisinya.</p>

<p>Membesarkan putraku seorang diri bukanlah perihal mudah. Tapi, mengingat betapa bencinya aku dengan lelaki dan melihat betapa sehat dan lebarnya senyum anakku setiap hari, rasanya aku ingin berteriak kencang di depan para kaum adam, “Lihat! Aku seorang perempuan, mampu membesarkan sendiri anak laki-laki menjadi manusia yang baik! Tidak tumbuh seperti kalian!”</p>

<p>(Aku pun melakukannya di depan orangtuaku yang dulu sempat menentang kehadiran janin ini.)</p>

<p>Namun seiring dengan berjalannya waktu, tidak bisa disangkal bahwa sosok yang kubesarkan dengan tanganku sendiri ini punya fisik yang terlampau mirip dengan ayahnya. Lelaki yang sangat aku cintai tetapi pada akhirnya kuminta untuk pergi. Rambutnya yang hitam legam agak ikal dan tebal jika dibiarkan panjang. Bola matanya gelap seperti lautan yang dalam––mengingatkanku pada mata ayahnya yang kerap kuselami saat kami bercinta dulu. Tidak bisa kusangkal, sejauh apapun lelaki itu kuminta untuk pergi, aku masih bisa melihat jejaknya di sampingku.</p>

<p>Suatu hari disaat pekerjaanku sedang banyak dan membuat sakit kepala, wali kelas Sunu menelpon. Katanya, putraku berkelahi dengan teman sekelas dan orangtua anak itu tidak terima. Kuputuskan untuk pulang kerja lebih awal dan segera kutemui putraku di sekolah.</p>

<p>Hal pertama yang aku lihat sore itu adalah sepasang suami istri muda dengan wajah tidak ramah. Pegangan tanganku pada tas kulit yang kubawa semakin erat. Semua ini mengingatkanku pada diriku sendiri puluhan tahun lalu saat disidang di sekolah. Banyak sekali kilasan memori tidak menyenangkan mendadak berputar di kepala. Tentang anggapan orangtuaku yang gagal mendidik anaknya, atau tentangku yang nakal dan menyusahkan semua orang.</p>

<p>Aku benci mengingat bahwa semua orang dewasa di saat itu tidak memberi validasi atas perasaanku yang terluka dan tidak mau terima alasan kenapa aku berbuat onar.</p>

<p>“Saya ayahnya Thomas.” suara berat dengan aksen amerika yang kental memaksaku untuk kembali dari kenangan masa lalu. “Anak Anda meninju wajah anak saya sampai biru.”</p>

<p>“Boleh saya bicara dengan anak saya dulu?”</p>

<p>Wali kelas Sunu mempersilahkan aku untuk menghampiri putraku di sudut ruangan. Ia duduk dengan kedua tangan erat mencengkram kedua lutut. Kepala menunduk dan tidak kulihat ia mau menatap semua orang di ruangan tersebut.</p>

<p>“Hey, Love.” bisikku di dekat Sunu, tanganku mengelus pelan bahunya yang tegang. “Ibuk di sini.”</p>

<p>Sunu perlahan mengangkat wajahnya. Terlihat bahwa ia sangat marah dengan tanda gigi yang bergemeretak. “Aku nggak suka. Aku nggak suka Thomas bilang hidupku sial karena gak punya Bapak.”</p>

<p>Hatiku seakan retak dan hancur mendengar suara putraku yang menahan tangis karena dihina keluarganya tidak lengkap.</p>

<p>–</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qayoozian.writeas.com/sunu-and-ibuk-vs-the-world-1</guid>
      <pubDate>Sun, 22 Aug 2021 11:26:43 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>tw: infidelity</title>
      <link>https://qayoozian.writeas.com/tw-infidelity?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[tw: infidelity&#xA;&#xA;Ada getar halus dalam hati yang dirasa saat kulit tangan tak sengaja bersentuhan. Telinganya merah pertanda malu. Pipimu pun terasa panas, mungkin akan berwarna serupa jika tidak tertutup perona pipi yang sedang dipakai. Dari sudut mata, bisa dilihat gerak-geriknya yang canggung setelah kontak fisik denganmu barusan.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Ini bukan kali pertama.&#xA;&#xA;Kamu dan dia sering bertukar pandang secara diam-diam. Saling melempar senyum saat tak ada yang melihat. Saling mengucap nama masing-masing dalam hati saja. Tak berani beraksi, tak punya nyali untuk bergerak maju.&#xA;&#xA;“Sayang?”&#xA;&#xA;“Ya?”&#xA;&#xA;“Tolong susul Chan, dong. Kayaknya dia nggak bisa beli semuanya sendirian.”&#xA;&#xA;Permintaan pacarmu menjadi awal mula tangan yang saling mendekap, bibir yang bersentuhan, dan deru napas berat yang hanya bisa didengar dua sosok manusia dalam mobil yang saling mencumbu.&#xA;&#xA;“Chan…”&#xA;&#xA;“Kali ini aja, please.” Pintanya, dengan kedua mata berkaca-kaca. Bibirnya bergetar menahan semua emosi yang ia miliki. “Biarin aku kasih liat seberapa besar aku sayang sama kamu.”&#xA;&#xA;Selanjutnya ada tangan yang bergerilya di balik kemejamu, rambutnya yang berantakan karena jari-jarimu, dan airmata sebagai bentuk nyata rasa bersalah serta ingin yang melebur jadi satu.&#xA;&#xA;Pajangan anjing di dashboard mobil menjadi saksi bisu. Karena saat sudah kembali nanti, kamu bukan lagi miliknya dan dia bukan lagi punyamu.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>tw: infidelity</p>

<p>Ada getar halus dalam hati yang dirasa saat kulit tangan tak sengaja bersentuhan. Telinganya merah pertanda malu. Pipimu pun terasa panas, mungkin akan berwarna serupa jika tidak tertutup perona pipi yang sedang dipakai. Dari sudut mata, bisa dilihat gerak-geriknya yang canggung setelah kontak fisik denganmu barusan.</p>



<p>Ini bukan kali pertama.</p>

<p>Kamu dan dia sering bertukar pandang secara diam-diam. Saling melempar senyum saat tak ada yang melihat. Saling mengucap nama masing-masing dalam hati saja. Tak berani beraksi, tak punya nyali untuk bergerak maju.</p>

<p>“Sayang?”</p>

<p>“Ya?”</p>

<p>“Tolong susul Chan, dong. Kayaknya dia nggak bisa beli semuanya sendirian.”</p>

<p>Permintaan pacarmu menjadi awal mula tangan yang saling mendekap, bibir yang bersentuhan, dan deru napas berat yang hanya bisa didengar dua sosok manusia dalam mobil yang saling mencumbu.</p>

<p>“Chan…”</p>

<p>“Kali ini aja, please.” Pintanya, dengan kedua mata berkaca-kaca. Bibirnya bergetar menahan semua emosi yang ia miliki. “Biarin aku kasih liat seberapa besar aku sayang sama kamu.”</p>

<p>Selanjutnya ada tangan yang bergerilya di balik kemejamu, rambutnya yang berantakan karena jari-jarimu, dan airmata sebagai bentuk nyata rasa bersalah serta ingin yang melebur jadi satu.</p>

<p>Pajangan anjing di dashboard mobil menjadi saksi bisu. Karena saat sudah kembali nanti, kamu bukan lagi miliknya dan dia bukan lagi punyamu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qayoozian.writeas.com/tw-infidelity</guid>
      <pubDate>Sun, 31 Jan 2021 12:02:05 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>The Dried Flowers</title>
      <link>https://qayoozian.writeas.com/the-dried-flowers?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[The Dried Flowers&#xA;&#xA;i. Pink Daisy&#xA;&#xA;Subin cuma punya bekal bunga segar di tangan dan cinta yang ia pikir sangat besar saat menyatakan perasaannya untuk pertama kali ke perempuan yang disukainya. &#xA;!--more--&#xA;Dia belajar itu dari pacar-pacar kakak perempuannya yang suka memberi bunga di hari spesial, juga dari senior-seniornya di klub sepak bola yang gemar mencari toko bunga murah lewat tagar di instagram. Maklum, mereka masih pelajar dan belum punya penghasilan yang besar. Tapi dari sana ia jadi belajar banyak. Subin jadi tahu makna-makna bunga beserta warnanya.&#xA;&#xA;Observasi yang ia lakukan secara tidak sengaja selama beratahun-tahun itu pun membuahkan hasil. Sebuket bunga daisy berwarna merah muda ia serahkan kepada si perempuan yang sudah ia sukai sejak lama.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa pink daisies?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Innocent love, I guess?&#34; Subin mendadak gelagapan saat ditanya pujaan hati. Rona merah muda perlahan mulai mewarnai pipinya pertanda ia sedang malu.&#xA;&#xA;&#34;Oh...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh, tapi, kalau lo nggak mau terima juga nggak apa-apa.&#34; Pink daisies, a symbol of a very shy feeling, the sender might be afraid of rejection.&#xA;&#xA;&#34;Emangnya gue ada bilang sesuatu selain tanya artinya bunga ini apa?&#34;&#xA;&#xA;Subin diterima, akhirnya dia pacaran untuk yang pertama kalinya.&#xA;&#xA;ii. Yellow Lily&#xA;&#xA;Subin tahu dirinya nggak pandai untuk mengekspresikan perasaan lewat kata-kata manis.&#xA;&#xA;Dia bukan pujangga dengan sejuta kata tersimpan di kepala yang siap dituangkan ke atas kertas kapan saja. Subin hanyalah remaja lelaki biasa. Ia masih suka ketiduran dengan mulut menganga kalau sedang terlentang. Dirinya juga lebih suka main bola dibanding nonton drama romansa korea yang kata pacarnya romantis banget. &#xA;&#xA;Subin bukan Park Bogum yang ganteng selangit dan bisa manis-manis tiap hari ke pacarnya seperti di drama. Tapi dia selalu berusaha supaya rasa cinta yang ia miliki sampai pada perempuannya. Setidaknya, dengan caranya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Ini apa, Subin?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yellow lilies?&#34;&#xA;&#xA;Perempuannya tertawa lebar dengan lesung pipi bertengger manis di sisi kiri pipi. &#34;Iya, aku tau. Tapi artinya apa?&#34;&#xA;&#xA;Subin ingin bilang kalau di dalam perutnya serasa ada yang menggelitik setiap kali gadis itu tersenyum dan tertawa, rasa geli yang nyaman dan menyenangkan--seperti sayap kupu-kupu yang mengepak-ngepak ketika terbang. &#xA;&#xA;&#34;Aku... seneng.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Seneng karena?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dibolehin sayang sama kamu.&#34;&#xA;&#xA;Sebuah ciuman mendarat di pipi Subin, membuat dirinya ingin terbang ke awang-awang saking bahagianya. Seandainya ia adalah seorang karakter di dalam komik, mungkin sekarang tubuhnya bisa bertransformasi jadi jutaan kupu-kupu yang terbang ke sana kemari. &#xA;&#xA;iiI. Pink Aster&#xA;&#xA;Pink aster, the flower that attracted butterflies, is usually represents sensitivity and love.&#xA;&#xA;&#34;Kayaknya emang udah susah diperbaiki nggak, sih?&#34;&#xA;&#xA;Subin diam seribu bahasa, rahangnya mengeras ingin menjawab bahwa hubungan mereka masih bisa dipertahankan. Sayangnya, air mata yang keluar dari sudut indera milik si perempuan membuat lidahnya kelu.&#xA;&#xA;&#34;Dulu, rasanya banyak kupu-kupu yang bikin senang di sini.&#34; Buru-buru perempuan itu menyeka tangisannya dengan tangan, kemudian ia menunjuk dada bagian kiri tepat di mana jantungnya berada. &#34;Sekarang malah bikin sesak yang nggak enak. Rasanya kayak terlalu banyak kupu-kupu dan badan aku mau meledak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maaf...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maafin aku juga, Subin.&#34;&#xA;&#xA;Sebuket bunga aster merah muda yang dibawa Subin sebagai permintaan maafnya malam itu tergeletak begitu saja di pojok kamar indekos si perempuan, bahkan sampai berbulan-bulan setelahnya hingga berubah warna dan mengering.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h3 id="the-dried-flowers">The Dried Flowers</h3>

<h4 id="i-pink-daisy"><strong>i. Pink Daisy</strong></h4>

<p>Subin cuma punya bekal bunga segar di tangan dan cinta yang ia pikir sangat besar saat menyatakan perasaannya untuk pertama kali ke perempuan yang disukainya.

Dia belajar itu dari pacar-pacar kakak perempuannya yang suka memberi bunga di hari spesial, juga dari senior-seniornya di klub sepak bola yang gemar mencari toko bunga murah lewat tagar di instagram. Maklum, mereka masih pelajar dan belum punya penghasilan yang besar. Tapi dari sana ia jadi belajar banyak. Subin jadi tahu makna-makna bunga beserta warnanya.</p>

<p>Observasi yang ia lakukan secara tidak sengaja selama beratahun-tahun itu pun membuahkan hasil. Sebuket bunga daisy berwarna merah muda ia serahkan kepada si perempuan yang sudah ia sukai sejak lama.</p>

<p>“Kenapa <em>pink daisies?</em>“</p>

<p>“<em>Innocent love, I guess?</em>” Subin mendadak gelagapan saat ditanya pujaan hati. Rona merah muda perlahan mulai mewarnai pipinya pertanda ia sedang malu.</p>

<p>“Oh...”</p>

<p>“Eh, tapi, kalau lo nggak mau terima juga nggak apa-apa.” <em>Pink daisies, a symbol of a very shy feeling, the sender might be afraid of rejection.</em></p>

<p>“Emangnya gue ada bilang sesuatu selain tanya artinya bunga ini apa?”</p>

<p>Subin diterima, akhirnya dia pacaran untuk yang pertama kalinya.</p>

<h4 id="ii-yellow-lily"><strong>ii. Yellow Lily</strong></h4>

<p>Subin tahu dirinya nggak pandai untuk mengekspresikan perasaan lewat kata-kata manis.</p>

<p>Dia bukan pujangga dengan sejuta kata tersimpan di kepala yang siap dituangkan ke atas kertas kapan saja. Subin hanyalah remaja lelaki biasa. Ia masih suka ketiduran dengan mulut menganga kalau sedang terlentang. Dirinya juga lebih suka main bola dibanding nonton drama romansa korea yang kata pacarnya romantis banget.</p>

<p>Subin bukan Park Bogum yang ganteng selangit dan bisa manis-manis tiap hari ke pacarnya seperti di drama. Tapi dia selalu berusaha supaya rasa cinta yang ia miliki sampai pada perempuannya. Setidaknya, dengan caranya sendiri.</p>

<p>“Ini apa, Subin?”</p>

<p>“<em>Yellow lilies?</em>“</p>

<p>Perempuannya tertawa lebar dengan lesung pipi bertengger manis di sisi kiri pipi. “Iya, aku tau. Tapi artinya apa?”</p>

<p>Subin ingin bilang kalau di dalam perutnya serasa ada yang menggelitik setiap kali gadis itu tersenyum dan tertawa, rasa geli yang nyaman dan menyenangkan—seperti sayap kupu-kupu yang mengepak-ngepak ketika terbang.</p>

<p>“Aku... seneng.”</p>

<p>“Seneng karena?”</p>

<p>“Dibolehin sayang sama kamu.”</p>

<p>Sebuah ciuman mendarat di pipi Subin, membuat dirinya ingin terbang ke awang-awang saking bahagianya. Seandainya ia adalah seorang karakter di dalam komik, mungkin sekarang tubuhnya bisa bertransformasi jadi jutaan kupu-kupu yang terbang ke sana kemari.</p>

<h4 id="iii-pink-aster"><strong>iiI. Pink Aster</strong></h4>

<p><em>Pink aster, the flower that attracted butterflies, is usually represents sensitivity and love.</em></p>

<p>“Kayaknya emang udah susah diperbaiki nggak, sih?”</p>

<p>Subin diam seribu bahasa, rahangnya mengeras ingin menjawab bahwa hubungan mereka masih bisa dipertahankan. Sayangnya, air mata yang keluar dari sudut indera milik si perempuan membuat lidahnya kelu.</p>

<p>“Dulu, rasanya banyak kupu-kupu yang bikin senang di sini.” Buru-buru perempuan itu menyeka tangisannya dengan tangan, kemudian ia menunjuk dada bagian kiri tepat di mana jantungnya berada. “Sekarang malah bikin sesak yang nggak enak. Rasanya kayak terlalu banyak kupu-kupu dan badan aku mau meledak.”</p>

<p>“Maaf...”</p>

<p>“Maafin aku juga, Subin.”</p>

<p>Sebuket bunga aster merah muda yang dibawa Subin sebagai permintaan maafnya malam itu tergeletak begitu saja di pojok kamar indekos si perempuan, bahkan sampai berbulan-bulan setelahnya hingga berubah warna dan mengering.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qayoozian.writeas.com/the-dried-flowers</guid>
      <pubDate>Wed, 30 Dec 2020 08:20:27 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>The first time he laid his eyes on her was during one of the lady’s work trips—</title>
      <link>https://qayoozian.writeas.com/the-first-time-he-laid-his-eyes-on-her-was-during-one-of-the-ladys-work?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[The first time he laid his eyes on her was during one of the lady’s work trips—&#xA;&#x9;&#xA;“Excuse me?”&#xA;&#xA;Kartu undangan pertunangan dengan tulisan deskripsi cantik mengenai sejarah hubungan romansa dua sejoli diayun-ayunkan ke hadapan seorang lelaki. Puan yang disebut dalam kartu tersebut terdengar keberatan. Di sisi lain, lelaki yang ditanyai tadi malah cengar-cengir seperti tak berbuat salah. &#xA;!--more--&#xA;“Kita udah saling kenal sejak hari pertama ospek kuliah, alias lima belas tahun yang lalu.” Si puan kemudian mengubah arah duduknya yang tadi condong ke lelakinya menuju entitas lain di seberang meja, “Ini bisa direvisi, nggak?”&#xA;&#xA;“Hei, hei, sebentar.” Lelaki yang barusan tersenyum tak bersalah menengahi, “Kita emang udah kenal sejak lama, tapi aku baru ngelirik kamu pas udah kerja dan punya duit.”&#xA;&#xA;“Gimana?!”&#xA;&#xA;“We were dumb, young, and broke fifteen years ago.” Lagi-lagi cengiran tak bersalah terlihat dari wajah si lelaki, “Aku yang dulu mana mau sama kamu, Sayang. Masih dekil dan ke kampus naik bus gitu, bau matahari.”&#xA;&#xA;“Dasar cowok gila.”&#xA;&#xA;“Emangnya kamu ada ngelirik aku jaman kuliah dulu?”&#xA;&#xA;Dipandangi calon tunangannya itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dia yang dulu nggak akan tau tentang eksistensi Senna Wingtip keluaran Wolf and Shepherd. Jangankan sepatu harga ratusan dollar, buat beli makan siang saja lelaki itu sering minta dua ribu ke masing-masing anak himpunan—yang kalau ditotal bisa buat beberapa porsi tempe penyet di warung depan Fakultas. Selain itu, sekarang si lelaki juga punya hobi ganti ponsel tiap merk keluaran Steve Jobs mengeluarkan seri barunya. &#xA;&#xA;Well, benar juga. Mungkin si Puan tidak sadar, ia mulai melirik calon tunangannya saat melihat Audemar Piguet melingkar di pergelangan tangan pria itu beberapa tahun yang lalu.&#xA;&#xA;“Tuh kan,” Senyum puas tercetak di wajah maskulin dengan rambut halus yang belum dicukur. “Nggak usah direvisi ya, Kak. Cantik banget, sesuai sama yang aku bayangin.”&#xA;&#xA;Entitas lain, si orang ketiga di seberang meja tersenyum canggung menimpali si lelaki. Dia terlihat agak khawatir dengan kliennya yang satu ini. Jujur saja, mereka terlihat seperti pasangan yang banyak uang alias ikan gemuk yang nggak boleh lepas. Tapi melihat respon si calon perempuan nggak bersahabat begini, dia jadi sangsi.&#xA;&#xA;—and soon, he was quickly enchanted by her charms. At first, she thought they were just two people that happened to be in each other’s lives, but never  expected  the impact that he would have until this very moment.&#xA;&#x9;&#xA;“Aku suka bagian ini, bagus dan cocok banget.” ujar si calon perempuan. Kukunya yang dipotong pendek rapi dan berhias sesuatu yang berkilau di sudutnya menunjuk kata impact.&#xA;&#xA;“Hm? Ini sih tulisan kakaknya yang keren. Aku nggak pernah mikir puitis kayak gini.” Lelaki itu garuk-garuk kepala. Entitas di seberang meja berharap si calon laki-laki tidak garuk-garuk kepala karena kutuan. “Emang, aku ngasih impact apa ke hidup kamu?”&#xA;&#xA;Hembusan napas berat dihela oleh si perempuan, “Do I have to confess? Right here? Nggak cukup aku bilang yang semalem?”&#xA;&#xA;“Aku cuma inget kamu desah doang kemarin—“&#xA;&#xA;“Seriously?!”&#xA;&#xA;“Galak banget sih, cantik?” Jari telunjuk dan jempil si lelaki menjepit kentang goreng di meja untuk kemudian di arahkan ke mulut calon tunangannya, “Makan dulu nih, aaa? Mungkin kamu laper makanya galak.”&#xA;&#xA;“Can you imagine spending the rest of your life with this kind of guy?” Tanya si calon perempuan kepada sosok yang mendesain undangan pertunangannya. Pertanyaan retoris, tentu saja.&#xA;&#xA;Their relationship and bond grew stronger from time to time, then she also found herself fell in love with him. And soon, they decided to take this relationship to the next step.&#xA;&#x9;&#xA;Both of them are delighted to share their happiness together with the dearest friends and family in this very moment.&#xA;&#x9;&#x9;&#x9;&#x9;&#xA;&#x9;ALILA SEMINYAK, BALI&#xA;&#x9;   JANUARY 29th, 2021&#xA;&#x9;&#x9;&#x9;&#xA;“Tanggal dan lokasinya sudah benar, ya?”&#xA;&#xA;Dibalas dengan anggukan keduanya. Fucking finally—akhirnya ada saat di mana keduanya sepakat dan tidak banyak berdebat.&#xA;&#xA;“Makasih ya, Kak, sorry kita ribet banget.” Si calon perempuan bicara sambil menutup pertemuan mereka sore itu. “Ngomong-ngomong, warna pink-nya bagus deh. Warnain di salon mana?”&#xA;&#xA;Sebelum oknum ketiga itu menjawab, si calon pria menyeletuk, “Kamu mau warnain rambut lagi? Hati-hati botak lho. Aku nggak mau ya punya tunangan gundul.”&#xA;&#xA;“Uhm, gimana kalau kita nggak jadi tunangan aja.”&#xA;&#xA;“Maaf,” Entitas berambut pink di hadapan kedua sejoli itu menyela, “Kalau batal, uangnya nggak kembali.”&#xA;&#xA;Dengan kompak mereka berseru, “Jadi tunangan kok!”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>The first time he laid his eyes on her was during one of the lady’s work trips—</em></p>

<p><em>“Excuse me?”</em></p>

<p>Kartu undangan pertunangan dengan tulisan deskripsi cantik mengenai sejarah hubungan romansa dua sejoli diayun-ayunkan ke hadapan seorang lelaki. Puan yang disebut dalam kartu tersebut terdengar keberatan. Di sisi lain, lelaki yang ditanyai tadi malah cengar-cengir seperti tak berbuat salah.

“Kita udah saling kenal sejak hari pertama ospek kuliah, alias lima belas tahun yang lalu.” Si puan kemudian mengubah arah duduknya yang tadi condong ke lelakinya menuju entitas lain di seberang meja, “Ini bisa direvisi, nggak?”</p>

<p>“Hei, hei, sebentar.” Lelaki yang barusan tersenyum tak bersalah menengahi, “Kita emang udah kenal sejak lama, tapi aku baru ngelirik kamu pas udah kerja dan punya duit.”</p>

<p>“Gimana?!”</p>

<p><em>“We were dumb, young, and broke fifteen years ago.”</em> Lagi-lagi cengiran tak bersalah terlihat dari wajah si lelaki, “Aku yang dulu mana mau sama kamu, Sayang. Masih dekil dan ke kampus naik bus gitu, bau matahari.”</p>

<p>“Dasar cowok gila.”</p>

<p>“Emangnya kamu ada ngelirik aku jaman kuliah dulu?”</p>

<p>Dipandangi calon tunangannya itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dia yang dulu nggak akan tau tentang eksistensi Senna Wingtip keluaran Wolf and Shepherd. Jangankan sepatu harga ratusan dollar, buat beli makan siang saja lelaki itu sering minta dua ribu ke masing-masing anak himpunan—yang kalau ditotal bisa buat beberapa porsi tempe penyet di warung depan Fakultas. Selain itu, sekarang si lelaki juga punya hobi ganti ponsel tiap merk keluaran Steve Jobs mengeluarkan seri barunya.</p>

<p>Well, benar juga. Mungkin si Puan tidak sadar, ia mulai melirik calon tunangannya saat melihat Audemar Piguet melingkar di pergelangan tangan pria itu beberapa tahun yang lalu.</p>

<p>“Tuh kan,” Senyum puas tercetak di wajah maskulin dengan rambut halus yang belum dicukur. “Nggak usah direvisi ya, Kak. Cantik banget, sesuai sama yang aku bayangin.”</p>

<p>Entitas lain, si orang ketiga di seberang meja tersenyum canggung menimpali si lelaki. Dia terlihat agak khawatir dengan kliennya yang satu ini. Jujur saja, mereka terlihat seperti pasangan yang banyak uang alias ikan gemuk yang nggak boleh lepas. Tapi melihat respon si calon perempuan nggak bersahabat begini, dia jadi sangsi.</p>

<p><em>—and soon, he was quickly enchanted by her charms. At first, she thought they were just two people that happened to be in each other’s lives, but never  expected  the impact that he would have until this very moment.</em></p>

<p>“Aku suka bagian ini, bagus dan cocok banget.” ujar si calon perempuan. Kukunya yang dipotong pendek rapi dan berhias sesuatu yang berkilau di sudutnya menunjuk kata <em>impact.</em></p>

<p>“Hm? Ini sih tulisan kakaknya yang keren. Aku nggak pernah mikir puitis kayak gini.” Lelaki itu garuk-garuk kepala. Entitas di seberang meja berharap si calon laki-laki tidak garuk-garuk kepala karena kutuan. “Emang, aku ngasih impact apa ke hidup kamu?”</p>

<p>Hembusan napas berat dihela oleh si perempuan, “<em>Do I have to confess? Right here?</em> Nggak cukup aku bilang yang semalem?”</p>

<p>“Aku cuma inget kamu desah doang kemarin—“</p>

<p><em>“Seriously?!”</em></p>

<p>“Galak banget sih, cantik?” Jari telunjuk dan jempil si lelaki menjepit kentang goreng di meja untuk kemudian di arahkan ke mulut calon tunangannya, “Makan dulu nih, aaa? Mungkin kamu laper makanya galak.”</p>

<p><em>“Can you imagine spending the rest of your life with this kind of guy?”</em> Tanya si calon perempuan kepada sosok yang mendesain undangan pertunangannya. Pertanyaan retoris, tentu saja.</p>

<p><em>Their relationship and bond grew stronger from time to time, then she also found herself fell in love with him. And soon, they decided to take this relationship to the next step.</em></p>

<p><em>Both of them are delighted to share their happiness together with the dearest friends and family in this very moment.</em></p>

<p>    <em>ALILA SEMINYAK, BALI</em>
       <em>JANUARY 29th, 2021</em></p>

<p>“Tanggal dan lokasinya sudah benar, ya?”</p>

<p>Dibalas dengan anggukan keduanya. <em>Fucking finally—</em>akhirnya ada saat di mana keduanya sepakat dan tidak banyak berdebat.</p>

<p>“Makasih ya, Kak, <em>sorry</em> kita ribet banget.” Si calon perempuan bicara sambil menutup pertemuan mereka sore itu. “Ngomong-ngomong, warna <em>pink</em>-nya bagus deh. Warnain di salon mana?”</p>

<p>Sebelum oknum ketiga itu menjawab, si calon pria menyeletuk, “Kamu mau warnain rambut lagi? Hati-hati botak lho. Aku nggak mau ya punya tunangan gundul.”</p>

<p>“Uhm, gimana kalau kita nggak jadi tunangan aja.”</p>

<p>“Maaf,” Entitas berambut pink di hadapan kedua sejoli itu menyela, “Kalau batal, uangnya nggak kembali.”</p>

<p>Dengan kompak mereka berseru, “Jadi tunangan kok!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qayoozian.writeas.com/the-first-time-he-laid-his-eyes-on-her-was-during-one-of-the-ladys-work</guid>
      <pubDate>Wed, 23 Dec 2020 15:38:16 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Hari Ibu</title>
      <link>https://qayoozian.writeas.com/yola-kenal-peringatan-hari-ibu-untuk-pertama-kali-dari-iklan-di-televisi?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Hari Ibu&#xA;&#xA;Yola kenal peringatan Hari Ibu untuk pertama kali dari iklan di televisi.&#xA;&#xA;Saat itu usianya empat tahun, sedang duduk di ruang keluarga dengan semangkuk sereal buah dan susu cokelat di pangkuannya. Layar kotak di hadapan menampilkan iklan tentang anak-anak yang membeli cokelat dengan recehan untuk merayakan hari ibu. Kepalanya seketika mengangguk, bibir tersenyum sumringah. &#xA;&#xA;Yola mau jadi ibu suatu hari nanti. !--more-- Karena, siapa yang tidak suka diberi cokelat gratis? Menyenangkan baginya bisa dapat satu hari spesial dalam setahun selain di hari ulang tahun. Yola kecil tidak sabar untuk cepat dewasa.&#xA;&#xA;&#34;Aduh, Neng Yola! Kalau makan hati-hati, belepotan itu susunya kena baju. Aduh!&#34;&#xA;&#xA;Tidak dihiraukannya ujaran panik si pengasuh, Yola kecil sibuk dengan khayalannya tentang jumlah cokelat yang akan ia dapat sebagai hadiah dalam satu tahun. &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Yola berumur enam tahun saat gurunya di kelas mengajarkan cara membuat kartu ucapan cantik untuk peringatan Hari Ibu.&#xA;&#xA;Dirinya mendapat kartas warna hijau besar sebagai dasar, beberapa kertas warna-warni yang mengkilap, dan juga glitter untuk ornamen tambahan di akhir. Tekstur kertasnya kasar dan tidak mudah dilipat seperti kertas origami yang ia punya di rumah. Kata Miss Mary, guru kelasnya yang suka pakai gaun bunga-bunga, bahan seperti itu lebih cocok untuk dijadikan kartu karena lebih tahan lama dan tidak mudah rusak jika basah terkena lem saat tahap menghias.&#xA;&#xA;&#34;Yola mau tulis apa buat Ibu?&#34;&#xA;&#xA;Gadis itu sedang mengoleskan lem ke atas kertas dengan hati-hati sebelum membubuhinya oleh glitter berkilauan sebagai hiasan. Tanpa melihat Miss Mary yang menunggu jawaban atas pertanyaannya, Yola dengan percaya diri menjawab,&#xA;&#xA;&#34;Nggak buat Ibu, Miss Mary. Tapi buat aku.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ih!&#34; Pyo, teman sebangku Yola, langsung menyela saat mendengar jawaban barusan, &#34;Kamu kan masih kecil, belom jadi Ibu! Harusnya kamu bikin kartu buat Ibu, dong.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pyo berisik deh.&#34; Yola memutar bola matanya kesal, &#34;Suka-suka aku, dong, mau bikin kartunya buat siapa. Yang bikin juga aku!&#34;&#xA;&#xA;Menerima respon seperti itu dari teman sebangkunya membuat Pyo kesal, &#34;Kasian banget Ibu kamu nggak dapet hadiah. Yola jahat sama Ibu! Bwek! Bwek! Bwek!&#34;&#xA;&#xA;Tidak terima dikatai, Yola menjulurkan lidah sambil mengacungkan gunting ke arah Pyo. Si anak lelaki pun tidak mau kalah, ia melakukan hal yang sama karena kesal. Seandainya ini adalah film, mungkin sudah ada kilatan berwarna kuning seperti petir di antara kepala mereka pertanda keduanya sedang marah. &#xA;&#xA;Miss Mary sebagai guru langsung melerai kedua muridnya. Perempuan itu langsung mengajak Yola dan Pyo ke Pojok Refleksi, tempat khusus dibuat untuk murid yang melakukan tindakan tidak menyenangkan, di salah satu sudut kelas. Mampus, pikir Yola. Sudah pasti guru kelasnya ini akan melapor ke kedua orangtuanya nanti sepulang sekolah. Demi Tuhan, Yola benci Pyo dan Hari Ibu.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Yola pulang ke rumah dengan kesal karena kartu ucapan hari ibu buat dirinya sendiri belum jadi gara-gara berantem sama Pyo. Bibirnya manyun seperti bebek, tidak ada senyum sama sekali. Biasanya, Yola akan senang hati jika pulang dijemput Ayah karena dia bisa putar lagu kesukaannya di radio mobil Ayah. Mereka akan bernyanyi sepanjang jalan dengan jendela mobil terbuka lebar.&#xA;&#xA;&#34;Ih, anak Ayah kayak bebek deh.&#34;&#xA;&#xA;Gadis itu semakin memanyunkan bibir pertanda makin kesal.&#xA;&#xA;&#34;Besok Ayah mau playdate sama Papanya Pyo, lho, dek. Mau ikut nggak?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ayah!&#34; Baru Yola menyahut, &#34;Udah gede kok masih main-main! Sama papanya Pyo pula. Ayah gak temen sama Yola, nih!&#34;&#xA;&#xA;Mobil berhenti saat lampu lalu lintas di depan mata menunjukkan warna merah. Si Ayah melirik anak perempuannya di kursi sebelah yang masih manyun karena kejadian di sekolah yang tidak menyenangkan tadi. Dielusnya kepala sang putri yang rambutnya diikat dua, masih rapi seperti tadi pagi. &#xA;&#xA;&#34;Dek Yola masih bete sama Pyo.&#34;&#xA;&#xA;Karena tidak kunjung ada jawaban dari Yola, Ayah mencubit pipi gembil si gadis untuk mencuri perhatiannya.&#xA;&#xA;&#34;Masiiiiiih.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kartu Hari Ibu punyaku belum jadi, Ayaaaaah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Cieeee,&#34; digodanya Yola dengan menjawil hidung anak semata wayangnya itu, &#34;ada yang mau kasih hadiah buat Ibu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ih, kartu ini buat adek, kok!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kok buat adek?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Emang nggak boleh?&#34;&#xA;&#xA;Ayah menunda jawab pertanyaan Yola karena lampu lalu lintas berubah hijau. Tangannya yang semula menjawil pipi Yola bergerak memindahkan persneling mobil kemudian fokus mengemudi. Atmosfir di dalam mobil tidak semenyenangkan biasanya karena tuan putri masih ngambek.&#xA;&#xA;&#34;Nggak ada yang larang juga, sih, adek bikin kartu buat diri sendiri.&#34; kata Ayah kemudian, matanya masih terfokus dengan jalanan di depan yang cukup lancar hari itu. &#34;Cuma ayah penasaran, kenapa adek mau bikin kartu hari ibu buat adek sendiri?&#34;&#xA;&#xA;Si putri semata wayang menyilangkan kedua tangan di dada. Gestur tersebut menandakan ia akan berbicara panjang lebar. Kepalanya geleng-geleng membuat dua ikatan rambutnya bergoyang pelan. Hal tersebut mengingatkan si Ayah dengan gantungan kucing yang digantung di jendela kamar Yola ketika terkena angin. &#xA;&#xA;&#34;Adek juga mau ngerayain hari ibu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Karena dapat hadiah. Di TV adek lihat, ibu-ibu dapat hadiah cokelat.&#34;&#xA;&#xA;Ayah membelokkan setir mobil ke arah gedung perkantoran. Yola sejenak takjub dengan betapa tingginya gedung-gedung yang ada di sekelilingnya. &#xA;&#xA;&#34;Terus, adek juga mau dapat hadiah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya!&#34; Yola melepaskan fokusnya dari gedung bertingkat kembali pada obrolannya dengan sang ayah, &#34;Kan enak, dapat hadiah lagi selain hari ulang tahun. Jadi kadonya banyaaaaak!&#34;&#xA;&#xA;Kedua tangan kecil Yola bergerak membentuk segitiga seperti gunung. Wajahnya bersemu merah muda dan senyum kembali menghiasi wajah bulat kecilnya. Tuan putri sudah kembali ceria hanya dengan memikirkan jumlah hadiah ekstra yang bisa ia dapat kalau dirinya juga merayakan Hari Ibu.&#xA;&#xA;&#34;Tapi jadi ibu berat, tau, Dek.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Masa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya. Tuh, lihat Ibu.&#34;&#xA;&#xA;Ayah menunjuk perempuan dewasa yang berjalan ke arah mobil mereka dengan satu tangan memegang ponsel di telinga, tangan satu lagi membawa tas kulit hitam berukuran besar yang terlihat cukup berat. Perempuan tersebut membuka pintu belakang mobil kemudian, wajahnya ditekuk sembari berbicara dengan seseorang di telepon. Hubungi lagi besok, ya. Ucapnya, kemudian bersandar pada kursi penumpang dengan hembusan napas lelah setelah sambungan telepon terputus.&#xA;&#xA;&#34;Capek tau kak, jadi Ibu. Liat deh, mukanya masih ditekuk gitu sore-sore. Untung cantik.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apaan sih, Yah.&#34; balas si perempuan yang lebih dewasa. Tangannya terjulur ke depan bermaksud meraih pipi putrinya yang duduk di kursi sebelah pengemudi, &#34;Gimana sekolahnya, anak ibu sayang?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm bete, tadi berantem sama Pyo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pyo?&#34; si Ibu bertanya, menoleh ke Ayah, &#34;Anaknya temen kamu?&#34;&#xA;&#xA;Ayah mengangguk dengan wajah menahan tawa. &#34;Biar dek Yola deh yang cerita.&#34;&#xA;&#xA;Sepanjang perjalanan pulang dihabiskan dengan Yola yang bercerita tentang kejadian di sekolah dan perihal kartu hari ibu. Si Ibu terkikik geli mendengar cerita putrinya.&#xA;&#xA;&#34;Ngasih hadiah kartu ke diri sendiri tuh bentuk sayang sama diri sendiri, kan? Bagus tuh, Dek.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kan!!!!&#34; Yola bersemangat setelah mendengar komentar Ibunya, &#34;Ibu bilang gitu berarti bagus!&#34;&#xA;&#xA;Si Ayah menimpali ucapan Yola dengan tawa renyah, &#34;Trus, adek tetep mau jadi Ibu biar dapat hadiah setahun dua kali?&#34;&#xA;&#xA;Gadis kecil itu mengangguk dengan semangat. &#34;Iya dong. Cita-cita aku jadi Ibu aja deh, kayak Ibu. Keren dan dapat banyak hadiah!&#34;&#xA;&#xA;Ayah menyalakan radio di mobil dan memutar lagu-lagu kesukaan putrinya, membuat gadis enam tahun itu jadi kegirangan dan hampir loncat kalau tidak ingat tubuhnya terhalang sabuk pengaman. Perjalanan menuju rumah dihabiskan dengan Yola yang sibuk menyanyi dan bertepuk tangan. Si Ayah tersenyum melihat putrinya kembali riang.&#xA;&#xA;Dari kaca spion tengah, si Ayah menatap istrinya yang juga tersenyum dengan penuh arti. Biarlah si kecil mereka punya harapan dan cita-cita untuk bahagia dengan versinya sendiri. Toh, seiring dengan berjalannya waktu, Yola juga akan tumbuh dewasa dan mungkin sudut pandangnya akan berubah seiring berjalannya waktu.&#xA;&#xA;&#34;Dek, besok ayah mau main sama papanya Pyo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Main di mana?&#34; tampaknya Yola sudah lupa dengan cerita di sekolah karena barusan ia menyanyi dengan riang gembira.&#xA;&#xA;&#34;Di Gym, biar ototnya makin gede.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan! Nanti Ayah berubah jadi Hulk!!!!!&#34;&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h3 id="hari-ibu">Hari Ibu</h3>

<p>Yola kenal peringatan Hari Ibu untuk pertama kali dari iklan di televisi.</p>

<p>Saat itu usianya empat tahun, sedang duduk di ruang keluarga dengan semangkuk sereal buah dan susu cokelat di pangkuannya. Layar kotak di hadapan menampilkan iklan tentang anak-anak yang membeli cokelat dengan recehan untuk merayakan hari ibu. Kepalanya seketika mengangguk, bibir tersenyum sumringah.</p>

<p><em>Yola mau jadi ibu suatu hari nanti.</em>  Karena, siapa yang tidak suka diberi cokelat gratis? Menyenangkan baginya bisa dapat satu hari spesial dalam setahun selain di hari ulang tahun. Yola kecil tidak sabar untuk cepat dewasa.</p>

<p>“Aduh, Neng Yola! Kalau makan hati-hati, belepotan itu susunya kena baju. Aduh!”</p>

<p>Tidak dihiraukannya ujaran panik si pengasuh, Yola kecil sibuk dengan khayalannya tentang jumlah cokelat yang akan ia dapat sebagai hadiah dalam satu tahun.</p>

<hr/>

<p>Yola berumur enam tahun saat gurunya di kelas mengajarkan cara membuat kartu ucapan cantik untuk peringatan Hari Ibu.</p>

<p>Dirinya mendapat kartas warna hijau besar sebagai dasar, beberapa kertas warna-warni yang mengkilap, dan juga <em>glitter</em> untuk ornamen tambahan di akhir. Tekstur kertasnya kasar dan tidak mudah dilipat seperti kertas origami yang ia punya di rumah. Kata <em>Miss Mary</em>, guru kelasnya yang suka pakai gaun bunga-bunga, bahan seperti itu lebih cocok untuk dijadikan kartu karena lebih tahan lama dan tidak mudah rusak jika basah terkena lem saat tahap menghias.</p>

<p>“Yola mau tulis apa buat Ibu?”</p>

<p>Gadis itu sedang mengoleskan lem ke atas kertas dengan hati-hati sebelum membubuhinya oleh glitter berkilauan sebagai hiasan. Tanpa melihat <em>Miss Mary</em> yang menunggu jawaban atas pertanyaannya, Yola dengan percaya diri menjawab,</p>

<p>“Nggak buat Ibu, <em>Miss Mary</em>. Tapi buat aku.”</p>

<p>“Ih!” Pyo, teman sebangku Yola, langsung menyela saat mendengar jawaban barusan, “Kamu kan masih kecil, belom jadi Ibu! Harusnya kamu bikin kartu buat Ibu, dong.”</p>

<p>“Pyo berisik deh.” Yola memutar bola matanya kesal, “Suka-suka aku, dong, mau bikin kartunya buat siapa. Yang bikin juga aku!”</p>

<p>Menerima respon seperti itu dari teman sebangkunya membuat Pyo kesal, “Kasian banget Ibu kamu nggak dapet hadiah. Yola jahat sama Ibu! Bwek! Bwek! Bwek!”</p>

<p>Tidak terima dikatai, Yola menjulurkan lidah sambil mengacungkan gunting ke arah Pyo. Si anak lelaki pun tidak mau kalah, ia melakukan hal yang sama karena kesal. Seandainya ini adalah film, mungkin sudah ada kilatan berwarna kuning seperti petir di antara kepala mereka pertanda keduanya sedang marah.</p>

<p><em>Miss Mary</em> sebagai guru langsung melerai kedua muridnya. Perempuan itu langsung mengajak Yola dan Pyo ke Pojok Refleksi, tempat khusus dibuat untuk murid yang melakukan tindakan tidak menyenangkan, di salah satu sudut kelas. <em>Mampus</em>, pikir Yola. Sudah pasti guru kelasnya ini akan melapor ke kedua orangtuanya nanti sepulang sekolah. Demi Tuhan, Yola benci Pyo dan Hari Ibu.</p>

<hr/>

<p>Yola pulang ke rumah dengan kesal karena kartu ucapan hari ibu buat dirinya sendiri belum jadi gara-gara berantem sama Pyo. Bibirnya manyun seperti bebek, tidak ada senyum sama sekali. Biasanya, Yola akan senang hati jika pulang dijemput Ayah karena dia bisa putar lagu kesukaannya di radio mobil Ayah. Mereka akan bernyanyi sepanjang jalan dengan jendela mobil terbuka lebar.</p>

<p>“Ih, anak Ayah kayak bebek deh.”</p>

<p>Gadis itu semakin memanyunkan bibir pertanda makin kesal.</p>

<p>“Besok Ayah mau <em>playdate</em> sama Papanya Pyo, lho, dek. Mau ikut nggak?”</p>

<p>“Ayah!” Baru Yola menyahut, “Udah gede kok masih main-main! Sama papanya Pyo pula. Ayah gak temen sama Yola, nih!”</p>

<p>Mobil berhenti saat lampu lalu lintas di depan mata menunjukkan warna merah. Si Ayah melirik anak perempuannya di kursi sebelah yang masih manyun karena kejadian di sekolah yang tidak menyenangkan tadi. Dielusnya kepala sang putri yang rambutnya diikat dua, masih rapi seperti tadi pagi.</p>

<p>“Dek Yola masih bete sama Pyo.”</p>

<p>Karena tidak kunjung ada jawaban dari Yola, Ayah mencubit pipi gembil si gadis untuk mencuri perhatiannya.</p>

<p>“Masiiiiiih.”</p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p>“Kartu Hari Ibu punyaku belum jadi, Ayaaaaah.”</p>

<p>“Cieeee,” digodanya Yola dengan menjawil hidung anak semata wayangnya itu, “ada yang mau kasih hadiah buat Ibu.”</p>

<p>“Ih, kartu ini buat adek, kok!”</p>

<p>“Kok buat adek?”</p>

<p>“Emang nggak boleh?”</p>

<p>Ayah menunda jawab pertanyaan Yola karena lampu lalu lintas berubah hijau. Tangannya yang semula menjawil pipi Yola bergerak memindahkan persneling mobil kemudian fokus mengemudi. Atmosfir di dalam mobil tidak semenyenangkan biasanya karena tuan putri masih ngambek.</p>

<p>“Nggak ada yang larang juga, sih, adek bikin kartu buat diri sendiri.” kata Ayah kemudian, matanya masih terfokus dengan jalanan di depan yang cukup lancar hari itu. “Cuma ayah penasaran, kenapa adek mau bikin kartu hari ibu buat adek sendiri?”</p>

<p>Si putri semata wayang menyilangkan kedua tangan di dada. Gestur tersebut menandakan ia akan berbicara panjang lebar. Kepalanya geleng-geleng membuat dua ikatan rambutnya bergoyang pelan. Hal tersebut mengingatkan si Ayah dengan gantungan kucing yang digantung di jendela kamar Yola ketika terkena angin.</p>

<p>“Adek juga mau ngerayain hari ibu.”</p>

<p>“Kenapa?”</p>

<p>“Karena dapat hadiah. Di TV adek lihat, ibu-ibu dapat hadiah cokelat.”</p>

<p>Ayah membelokkan setir mobil ke arah gedung perkantoran. Yola sejenak takjub dengan betapa tingginya gedung-gedung yang ada di sekelilingnya.</p>

<p>“Terus, adek juga mau dapat hadiah?”</p>

<p>“Iya!” Yola melepaskan fokusnya dari gedung bertingkat kembali pada obrolannya dengan sang ayah, “Kan enak, dapat hadiah lagi selain hari ulang tahun. Jadi kadonya banyaaaaak!”</p>

<p>Kedua tangan kecil Yola bergerak membentuk segitiga seperti gunung. Wajahnya bersemu merah muda dan senyum kembali menghiasi wajah bulat kecilnya. Tuan putri sudah kembali ceria hanya dengan memikirkan jumlah hadiah ekstra yang bisa ia dapat kalau dirinya juga merayakan Hari Ibu.</p>

<p>“Tapi jadi ibu berat, tau, Dek.”</p>

<p>“Masa?”</p>

<p>“Iya. Tuh, lihat Ibu.”</p>

<p>Ayah menunjuk perempuan dewasa yang berjalan ke arah mobil mereka dengan satu tangan memegang ponsel di telinga, tangan satu lagi membawa tas kulit hitam berukuran besar yang terlihat cukup berat. Perempuan tersebut membuka pintu belakang mobil kemudian, wajahnya ditekuk sembari berbicara dengan seseorang di telepon. <em>Hubungi lagi besok, ya.</em> Ucapnya, kemudian bersandar pada kursi penumpang dengan hembusan napas lelah setelah sambungan telepon terputus.</p>

<p>“Capek tau kak, jadi Ibu. Liat deh, mukanya masih ditekuk gitu sore-sore. Untung cantik.”</p>

<p>“Apaan sih, Yah.” balas si perempuan yang lebih dewasa. Tangannya terjulur ke depan bermaksud meraih pipi putrinya yang duduk di kursi sebelah pengemudi, “Gimana sekolahnya, anak ibu sayang?”</p>

<p>“Hmm bete, tadi berantem sama Pyo.”</p>

<p>“Pyo?” si Ibu bertanya, menoleh ke Ayah, “Anaknya temen kamu?”</p>

<p>Ayah mengangguk dengan wajah menahan tawa. “Biar dek Yola deh yang cerita.”</p>

<p>Sepanjang perjalanan pulang dihabiskan dengan Yola yang bercerita tentang kejadian di sekolah dan perihal kartu hari ibu. Si Ibu terkikik geli mendengar cerita putrinya.</p>

<p>“Ngasih hadiah kartu ke diri sendiri tuh bentuk sayang sama diri sendiri, kan? Bagus tuh, Dek.”</p>

<p>“Kan!!!!” Yola bersemangat setelah mendengar komentar Ibunya, “Ibu bilang gitu berarti bagus!”</p>

<p>Si Ayah menimpali ucapan Yola dengan tawa renyah, “Trus, adek tetep mau jadi Ibu biar dapat hadiah setahun dua kali?”</p>

<p>Gadis kecil itu mengangguk dengan semangat. “Iya dong. Cita-cita aku jadi Ibu aja deh, kayak Ibu. Keren dan dapat banyak hadiah!”</p>

<p>Ayah menyalakan radio di mobil dan memutar lagu-lagu kesukaan putrinya, membuat gadis enam tahun itu jadi kegirangan dan hampir loncat kalau tidak ingat tubuhnya terhalang sabuk pengaman. Perjalanan menuju rumah dihabiskan dengan Yola yang sibuk menyanyi dan bertepuk tangan. Si Ayah tersenyum melihat putrinya kembali riang.</p>

<p>Dari kaca spion tengah, si Ayah menatap istrinya yang juga tersenyum dengan penuh arti. Biarlah si kecil mereka punya harapan dan cita-cita untuk bahagia dengan versinya sendiri. Toh, seiring dengan berjalannya waktu, Yola juga akan tumbuh dewasa dan mungkin sudut pandangnya akan berubah seiring berjalannya waktu.</p>

<p>“Dek, besok ayah mau main sama papanya Pyo.”</p>

<p>“Main di mana?” tampaknya Yola sudah lupa dengan cerita di sekolah karena barusan ia menyanyi dengan riang gembira.</p>

<p>“Di <em>Gym</em>, biar ototnya makin gede.”</p>

<p>“Jangan! Nanti Ayah berubah jadi Hulk!!!!!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qayoozian.writeas.com/yola-kenal-peringatan-hari-ibu-untuk-pertama-kali-dari-iklan-di-televisi</guid>
      <pubDate>Tue, 22 Dec 2020 09:51:41 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Perihal Kopi, Bubuk Cabai, dan Tempat Tidur Setelah Seribu Hari</title>
      <link>https://qayoozian.writeas.com/tak-ada-lagi-bubuk-cabai-instan-yang-aku-ambil-dari-rak-tertinggi-toserba?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Perihal Kopi, Bubuk Cabai, dan Tempat Tidur Setelah Seribu Hari&#xA;&#xA;Kopi pagi ini rasanya pahit.&#xA;&#xA;Memang kopi sudah sepantasnya pahit akibat interaksi antara senyawa kimia tertentu dengan bagian belakang lidahku. Namun dia, yang biasa bertugas membuat kopi untuk kami berdua setiap pagi di akhir pekan, seperti lupa bahwa aku lebih suka jika kopiku ditambahkan dua sendok gula pasir. &#xA;&#xA;&#34;Kok kopinya pahit?&#34;&#xA;&#xA;Entitas yang ditanya justru mengernyitkan dahi, memperlihatkan ekspresi heran dengan pertanyaan yang terdengar retoris baginya. &#xA;!--more--&#xA;&#34;Karena itu kopi, bukan susu?&#34;&#xA;&#xA;Anak TK juga tahu cairan hitam pekat dalam gelasku ini kopi, bukan susu. &#34;Aku nggak bisa minum kopi tanpa gula, kamu lupa?&#34;&#xA;&#xA;Bahunya mendadak tegak, ditepuknya dahi yang sebelumnya berkerut mendengar pertanyaan yang kulontarkan. Cengiran tipis terlukis di wajah lonjongnya seraya ia mengambil cangkir milikku tanpa mengatakan apa-apa. Selanjutnya, tak ada permintaan maaf seperti yang biasa ia ucapkan jika berbuat kesalahan, kecil sekalipun. Tubuh tingginya begitu saja meninggalkanku menuju dapur.&#xA;&#xA;&#34;Nih, udah pakai gula.&#34; Ucapnya beberapa saat kemudian dengan tangan menyodorkan cangkir kopiku.&#xA;&#xA;Manis.&#xA;&#xA;Terlalu manis.&#xA;&#xA;Bagi seseorang yang sudah seribu hari membuatkanku kopi di akhir pekan, melupakan dua sendok gula dalam minumanku merupakan hal yang tidak biasa.&#xA;&#xA;&#34;Tadi pakai gula berapa sendok?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Berapa, ya? Lupa.&#34; Jawabnya tanpa melirikku. Atensinya terfokus pada televisi yang semula menampilkan acara komedi kesukaan kami. Kini saluran televisi berganti dengan berita pagi yang menampilkan badai salju di salah satu negara empat musim. Dia yang mengganti salurannya. Iya, dia yang biasanya menertawakan satu dua tokoh acara komedi tersebut bersamaku.&#xA;&#xA;Di sini udaranya hangat, tidak seperti negara yang baru saja masuk berita, mengingat kami tinggal di negara tropis. Namun kontras dengan keadaan yang sesungguhnya, atmosfir di ruangan ini begitu dingin seperti habis diterpa badai salju.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Sebagai seseorang yang tidak bisa makan pedas, cabai dan sejenisnya bukan barang wajib yang akan duduk manis di sudut rak dapur milikku. &#xA;&#xA;Namun sejak seribu hari yang lalu, saat dia menjadi pemilik tetap sisi kanan tempat tidur di apartemen, bubuk cabai instan menjadi penghuni baru rak paling tinggi di dekat kulkas. Memang sengaja diletakkan di sana. Tubuhnya yang tinggi menjadi alasan mengapa hanya dirinya yang mampu mengakses si bubuk warna merah—selain karena cuma dia yang suka makanan pedas di sini.&#xA;&#xA;Sudah seribu hari semenjak aku terbiasa memasukkan bubuk cabai dalam troli belanjaanku. Tapi entah sejak kapan, aku mulai lupa dan abai akan keberadaan bumbu tersebut. Tidak lagi aku periksa apakah botolnya masih penuh atau tidak sebelum pergi ke toserba langganan. Ada saja alasannya; badanku yang terlalu pendek untuk meraih botol bubuk cabai, aku yang lupa dan terburu-buru, sampai aku tidak punya alasan untuk membelinya.&#xA;&#xA;Entahlah, mungkin aku sudah tidak peduli apakah ada yang suka makan pedas atau tidak di tempat ini.&#xA;&#xA;Sesungguhnya aku sendiri tidak menyadari hal tersebut hingga si pegawai yang sudah hapal dengan belanjaanku bertanya saat aku membayar. Kutolak dengan halus penawarannya untuk mengambilkan barang tersebut hingga membuatnya keheranan.&#xA;&#xA;&#34;Udah nggak makan yang pedes-pedes lagi?&#34;&#xA;&#xA;Seandainya saja dia tahu bahwa aku tidak bisa makan pedas dan bubuk cabai yang biasa aku beli bukanlah untukku. &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Sisi kanan tempat tidur kosong selama beberapa hari karena pemiliknya sedang pergi ke luar kota. &#xA;&#xA;Ibuku pernah bilang, sisi tempat tidur yang biasa ditempati orang lain akan terasa dingin dan kosong saat tiba-tiba pemiliknya pergi. Namun yang kurasakan justru sebaliknya; sejuk dan lega. Seperti huruf berdempetan yang akhirnya diberi spasi, layaknya bisa bernapas kembali setelah sekian lama sesak.&#xA;&#xA;Tak ada pesan darinya selama tiga hari belakangan, aku pun tidak memberinya kabar tentang anjing kesayangannya yang dititipkan pada tetangga. Benar, anjing kesayangannya kami titipkan pada tetangga sebelum dirinya pergi. Karena kami berdua tahu, aku tidak pernah suka anjing dan selama ini hanya sukarela merawatnya karena Brandy adalah kesayangan dia. Siapa yang tahu, bisa saja sekarang dia sedang melakukan panggilan video dengan tetangga kami untuk bertanya apakah Brandy sudah makan atau belum.&#xA;&#xA;Aku tidak peduli.&#xA;&#xA;Bodo amat.&#xA;&#xA;Akhirnya, setelah seribu hari, kasur besar ini kembali jadi milikku seutuhnya.&#xA;&#xA;Kuputar cincin yang melingkar di jari manisku sebelum memejamkan mata untuk beberapa jam ke depan. Entah sejak kapan aku berhenti peduli. Entah sejak kapan kami berhenti peduli dengan hubungan ini.&#xA;&#xA;Ah, aku tidak merindukannya. Semoga ia pulang lebih lama.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h3 id="perihal-kopi-bubuk-cabai-dan-tempat-tidur-setelah-seribu-hari">Perihal Kopi, Bubuk Cabai, dan Tempat Tidur Setelah Seribu Hari</h3>

<p>Kopi pagi ini rasanya pahit.</p>

<p>Memang kopi sudah sepantasnya pahit akibat interaksi antara senyawa kimia tertentu dengan bagian belakang lidahku. Namun <em>dia</em>, yang biasa bertugas membuat kopi untuk kami berdua setiap pagi di akhir pekan, seperti lupa bahwa aku lebih suka jika kopiku ditambahkan dua sendok gula pasir.</p>

<p>“Kok kopinya pahit?”</p>

<p>Entitas yang ditanya justru mengernyitkan dahi, memperlihatkan ekspresi heran dengan pertanyaan yang terdengar retoris baginya.

“Karena itu kopi, bukan susu?”</p>

<p>Anak TK juga tahu cairan hitam pekat dalam gelasku ini kopi, bukan susu. “Aku nggak bisa minum kopi tanpa gula, kamu lupa?”</p>

<p>Bahunya mendadak tegak, ditepuknya dahi yang sebelumnya berkerut mendengar pertanyaan yang kulontarkan. Cengiran tipis terlukis di wajah lonjongnya seraya ia mengambil cangkir milikku tanpa mengatakan apa-apa. Selanjutnya, tak ada permintaan maaf seperti yang biasa ia ucapkan jika berbuat kesalahan, kecil sekalipun. Tubuh tingginya begitu saja meninggalkanku menuju dapur.</p>

<p>“Nih, udah pakai gula.” Ucapnya beberapa saat kemudian dengan tangan menyodorkan cangkir kopiku.</p>

<p>Manis.</p>

<p>Terlalu manis.</p>

<p>Bagi seseorang yang sudah seribu hari membuatkanku kopi di akhir pekan, melupakan dua sendok gula dalam minumanku merupakan hal yang tidak biasa.</p>

<p>“Tadi pakai gula berapa sendok?”</p>

<p>“Berapa, ya? Lupa.” Jawabnya tanpa melirikku. Atensinya terfokus pada televisi yang semula menampilkan acara komedi kesukaan kami. Kini saluran televisi berganti dengan berita pagi yang menampilkan badai salju di salah satu negara empat musim. Dia yang mengganti salurannya. Iya, dia yang biasanya menertawakan satu dua tokoh acara komedi tersebut bersamaku.</p>

<p>Di sini udaranya hangat, tidak seperti negara yang baru saja masuk berita, mengingat kami tinggal di negara tropis. Namun kontras dengan keadaan yang sesungguhnya, atmosfir di ruangan ini begitu dingin seperti habis diterpa badai salju.</p>

<hr/>

<p>Sebagai seseorang yang tidak bisa makan pedas, cabai dan sejenisnya bukan barang wajib yang akan duduk manis di sudut rak dapur milikku.</p>

<p>Namun sejak seribu hari yang lalu, saat <em>dia</em> menjadi pemilik tetap sisi kanan tempat tidur di apartemen, bubuk cabai instan menjadi penghuni baru rak paling tinggi di dekat kulkas. Memang sengaja diletakkan di sana. Tubuhnya yang tinggi menjadi alasan mengapa hanya dirinya yang mampu mengakses si bubuk warna merah—selain karena cuma dia yang suka makanan pedas di sini.</p>

<p>Sudah seribu hari semenjak aku terbiasa memasukkan bubuk cabai dalam troli belanjaanku. Tapi entah sejak kapan, aku mulai lupa dan abai akan keberadaan bumbu tersebut. Tidak lagi aku periksa apakah botolnya masih penuh atau tidak sebelum pergi ke toserba langganan. Ada saja alasannya; badanku yang terlalu pendek untuk meraih botol bubuk cabai, aku yang lupa dan terburu-buru, sampai aku tidak punya alasan untuk membelinya.</p>

<p>Entahlah, mungkin aku sudah tidak peduli apakah ada yang suka makan pedas atau tidak di tempat ini.</p>

<p>Sesungguhnya aku sendiri tidak menyadari hal tersebut hingga si pegawai yang sudah hapal dengan belanjaanku bertanya saat aku membayar. Kutolak dengan halus penawarannya untuk mengambilkan barang tersebut hingga membuatnya keheranan.</p>

<p>“Udah nggak makan yang pedes-pedes lagi?”</p>

<p>Seandainya saja dia tahu bahwa aku tidak bisa makan pedas dan bubuk cabai yang biasa aku beli bukanlah untukku.</p>

<hr/>

<p>Sisi kanan tempat tidur kosong selama beberapa hari karena pemiliknya sedang pergi ke luar kota.</p>

<p>Ibuku pernah bilang, sisi tempat tidur yang biasa ditempati orang lain akan terasa dingin dan kosong saat tiba-tiba pemiliknya pergi. Namun yang kurasakan justru sebaliknya; sejuk dan lega. Seperti huruf berdempetan yang akhirnya diberi spasi, layaknya bisa bernapas kembali setelah sekian lama sesak.</p>

<p>Tak ada pesan darinya selama tiga hari belakangan, aku pun tidak memberinya kabar tentang anjing kesayangannya yang dititipkan pada tetangga. Benar, anjing kesayangannya kami titipkan pada tetangga sebelum dirinya pergi. Karena kami berdua tahu, aku tidak pernah suka anjing dan selama ini hanya sukarela merawatnya karena <em>Brandy</em> adalah kesayangan <em>dia</em>. Siapa yang tahu, bisa saja sekarang dia sedang melakukan panggilan video dengan tetangga kami untuk bertanya apakah Brandy sudah makan atau belum.</p>

<p>Aku tidak peduli.</p>

<p><em>Bodo amat.</em></p>

<p>Akhirnya, setelah seribu hari, kasur besar ini kembali jadi milikku seutuhnya.</p>

<p>Kuputar cincin yang melingkar di jari manisku sebelum memejamkan mata untuk beberapa jam ke depan. Entah sejak kapan aku berhenti peduli. Entah sejak kapan kami berhenti peduli dengan hubungan ini.</p>

<p>Ah, aku tidak merindukannya. Semoga ia pulang lebih lama.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qayoozian.writeas.com/tak-ada-lagi-bubuk-cabai-instan-yang-aku-ambil-dari-rak-tertinggi-toserba</guid>
      <pubDate>Thu, 17 Dec 2020 11:07:16 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Terbentur, Terbentur, Terbentuk</title>
      <link>https://qayoozian.writeas.com/terbentur-terbentur-terbentuk?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Terbentur, Terbentur, Terbentuk&#xA;&#xA;“Nujes, kok diabisin sih?”&#xA;&#xA;Lelaki yang barusan dipanggil namanya itu tidak menghiraukan pertanyaan barusan, ia sedang sibuk mengunyah dan menyantap kukis yang masih hangat baru keluar dari oven. Aroma vanila bercampur cokelat mengapung di udara, membuat si lelaki tadi mengunyah sekaligus menghidu udara di sekitarnya.&#xA;!--more--&#xA;“Jes, ih! Jawab dong!&#xA;&#xA;“Lagi makan?!” Jawab lelaki itu akhirnya dengan tatapan galak. Namun kontras dengan reaksi di wajah, tangan kirinya menggenggam tangan si perempuan dengan lembut. “Ya, masa kamu bikin buat aku tapi nggak dihabisin?”&#xA;&#xA;Oknum pembuat kue merengut, “Nanti kamu sakit perut...”&#xA;&#xA;“Kamu masukin racun?!”&#xA;&#xA;Nujes menepuk-nepuk dadanya keras, memperlihatkan reaksi dramatis sebagai respon. Tentu saja ia tahu gadis di hadapannya ini tidak mungkin meracuninya. Memang, dia bisa hidup tenang kalau lelaki itu kenapa-kenapa?&#xA;&#xA;“Yang bener aja?!” disodorkan sebuah gelas berisi air hangat ke hadapan kekasihnya. Ekspresi si perempuan masih agak ketakutan dan khawatir Nujes sakit karena makan kukis buatannya, “Aku ga bisa hidup tenang kali, kalau kamu kenapa-kenapa.”&#xA;&#xA;Tuh, kan. &#xA;&#xA;“Enak kok, beneran deh. Cuma agak keras aja.”&#xA;&#xA;“Bener?”&#xA;&#xA;“Makanya, kalau bikin tuh dicoba dong, ibu koki.” Si lelaki tidak tahu apa sebutan untuk seseorang yang membuat kue, anggap saja koki, seperti tukang masak lainnya. “Aaaa, buka mulutnya anak manis?”&#xA;&#xA;Perempuan itu memutar bola matanya mendengar ajakan Nujes untuk membuka mulut. Meskipun ia agak kesal dengan nada suara lelaki di hadapannya yang terkesan dibuat-buat, namun ia tetap membuka mulut saat sebuah kukis disodorkan ke depan bibirnya. &#xA;&#xA;Ia gigit sedikit, memang keras. Beberapa remahan menempel di lipgloss yang ia kenakan dan kemudian diseka oleh jempol milik Nujes. Tidak bohong, hatinya jadi berdebar lebih kencang seakan mau kabur dari tulang rusuk yang didesain kokoh itu. Selain deg-degan, ia juga kesal karena entitas di hadapannya justru memasang ekspresi jenaka. Sepertinya karena melihat rona merah di pipi muncul tanpa minta izin.&#xA;&#xA;“Enak, kan?”&#xA;&#xA;Perempuan itu mengangguk, “Iya, cuma agak keras aja.”&#xA;&#xA;“Makanya, dicoba dulu lain kali. Jangan jadiin orang lain tumbal.” &#xA;&#xA;Dicubitnya perut Nujes yang tertutup kaus hitam dengan lambang Metallica. Si oknum yang diserang malah tertawa kencang, mungkin cubitan tersebut cuma serasa gigitan semut kecil. Mengingat ukuran tubuh mereka bedanya jauh sekali.&#xA;&#xA;“Satu lagi,” lelaki itu melanjutkan, “jangan lupa buat percaya diri. Kamu bisa bikin kue kok. Enak. Aku suka.&#xA;&#xA;Seperti secangkir teh hangat di musim hujan, kalimat sederhana dari Nujes mampu menghangatkan hatinya yang kalut karena kehilangan rasa percaya diri belakangan ini. Mungkin, ia akan gagal di satu kesempatan. Atau satu kesempatan lain lagi. Bahkan di kesempatan selanjutnya lagi. Tapi—&#xA;&#xA;“Kalo gagal lagi, gimana?”&#xA;&#xA;“Coba lagi, lah?”&#xA;&#xA;“Siapa yang mau jadi kelinci percobaan lagi?”&#xA;&#xA;“Aku, aku di sini terus kok.”&#xA;&#xA;“Males.”&#xA;&#xA;“Ish!” Nujes menyentil dahi si perempuan. “Inget, ya. Terbentur, terbentur, terbentuk.”&#xA;&#xA;—nggak masalah kalau ia bisa terbentuk suatu hari nanti. Lebih lagi kalau ada Nujes di sisinya, masalah hidup nggak terasa begitu berat. Kayaknya?&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h3 id="terbentur-terbentur-terbentuk">Terbentur, Terbentur, Terbentuk</h3>

<p>“Nujes, kok diabisin sih?”</p>

<p>Lelaki yang barusan dipanggil namanya itu tidak menghiraukan pertanyaan barusan, ia sedang sibuk mengunyah dan menyantap kukis yang masih hangat baru keluar dari oven. Aroma vanila bercampur cokelat mengapung di udara, membuat si lelaki tadi mengunyah sekaligus menghidu udara di sekitarnya.

“Jes, ih! Jawab dong!</p>

<p>“Lagi makan?!” Jawab lelaki itu akhirnya dengan tatapan galak. Namun kontras dengan reaksi di wajah, tangan kirinya menggenggam tangan si perempuan dengan lembut. “Ya, masa kamu bikin buat aku tapi nggak dihabisin?”</p>

<p>Oknum pembuat kue merengut, “Nanti kamu sakit perut...”</p>

<p>“Kamu masukin racun?!”</p>

<p>Nujes menepuk-nepuk dadanya keras, memperlihatkan reaksi dramatis sebagai respon. Tentu saja ia tahu gadis di hadapannya ini tidak mungkin meracuninya. Memang, dia bisa hidup tenang kalau lelaki itu kenapa-kenapa?</p>

<p>“Yang bener aja?!” disodorkan sebuah gelas berisi air hangat ke hadapan kekasihnya. Ekspresi si perempuan masih agak ketakutan dan khawatir Nujes sakit karena makan kukis buatannya, “Aku ga bisa hidup tenang kali, kalau kamu kenapa-kenapa.”</p>

<p>Tuh, kan.</p>

<p>“Enak kok, beneran deh. Cuma agak keras aja.”</p>

<p>“Bener?”</p>

<p>“Makanya, kalau bikin tuh dicoba dong, ibu koki.” Si lelaki tidak tahu apa sebutan untuk seseorang yang membuat kue, anggap saja koki, seperti tukang masak lainnya. “Aaaa, buka mulutnya anak manis?”</p>

<p>Perempuan itu memutar bola matanya mendengar ajakan Nujes untuk membuka mulut. Meskipun ia agak kesal dengan nada suara lelaki di hadapannya yang terkesan dibuat-buat, namun ia tetap membuka mulut saat sebuah kukis disodorkan ke depan bibirnya.</p>

<p>Ia gigit sedikit, memang keras. Beberapa remahan menempel di lipgloss yang ia kenakan dan kemudian diseka oleh jempol milik Nujes. Tidak bohong, hatinya jadi berdebar lebih kencang seakan mau kabur dari tulang rusuk yang didesain kokoh itu. Selain deg-degan, ia juga kesal karena entitas di hadapannya justru memasang ekspresi jenaka. Sepertinya karena melihat rona merah di pipi muncul tanpa minta izin.</p>

<p>“Enak, kan?”</p>

<p>Perempuan itu mengangguk, “Iya, cuma agak keras aja.”</p>

<p>“Makanya, dicoba dulu lain kali. Jangan jadiin orang lain tumbal.”</p>

<p>Dicubitnya perut Nujes yang tertutup kaus hitam dengan lambang Metallica. Si oknum yang diserang malah tertawa kencang, mungkin cubitan tersebut cuma serasa gigitan semut kecil. Mengingat ukuran tubuh mereka bedanya jauh sekali.</p>

<p>“Satu lagi,” lelaki itu melanjutkan, “jangan lupa buat percaya diri. Kamu bisa bikin kue kok. Enak. Aku suka.</p>

<p>Seperti secangkir teh hangat di musim hujan, kalimat sederhana dari Nujes mampu menghangatkan hatinya yang kalut karena kehilangan rasa percaya diri belakangan ini. Mungkin, ia akan gagal di satu kesempatan. Atau satu kesempatan lain lagi. Bahkan di kesempatan selanjutnya lagi. Tapi—</p>

<p>“Kalo gagal lagi, gimana?”</p>

<p>“Coba lagi, lah?”</p>

<p>“Siapa yang mau jadi kelinci percobaan lagi?”</p>

<p>“Aku, aku di sini terus kok.”</p>

<p>“Males.”</p>

<p>“Ish!” Nujes menyentil dahi si perempuan. “Inget, ya. Terbentur, terbentur, terbentuk.”</p>

<p>—nggak masalah kalau ia bisa terbentuk suatu hari nanti. Lebih lagi kalau ada Nujes di sisinya, masalah hidup nggak terasa begitu berat. Kayaknya?</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qayoozian.writeas.com/terbentur-terbentur-terbentuk</guid>
      <pubDate>Mon, 07 Dec 2020 16:10:24 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>