<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>sunu &amp;mdash; qayoozian</title>
    <link>https://qayoozian.writeas.com/tag:sunu</link>
    <description>A nest of my self-indulgent writings. </description>
    <pubDate>Wed, 12 Aug 2026 22:55:51 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Sunu dan Ibuk vs The World — 2</title>
      <link>https://qayoozian.writeas.com/sunu-dan-ibuk-vs-the-world-2?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sunu dan Ibuk vs The World — 2&#xA;&#xA;Putraku Sunu jarang sekali menangis, bahkan ketika ia masih menjadi bayi yang hanya tau cara berkomunikasi lewat tangisan. !--more-- Anak itu seperti mengerti secara otomatis dengan kondisinya yang hanya hidup berdua saja dengan Ibu yang juga lelah karena bekerja. Namun sayangnya, hal itu terbawa hingga ia tumbuh besar.&#xA;&#xA;Sunu memang jarang menangis, namun ia mengekspresikan isi hatinya dengan cara lain. Yaitu dengan berteriak dan mengeluarkan amarah yang amat besar.&#xA;&#xA;“He punched me!” Thomas, si anak laki-laki berbadan besar berteriak sambil menangis.&#xA;&#xA;“You mocked me!”&#xA;&#xA;“I told the truth!”&#xA;&#xA;Kugenggam tangan mungil Sunu yang mengepal bersiap untuk menumpahkan tinjunya. Karena ia duduk menempel di sampingku, dapat kurasakan bahunya yang bergetar menahan marah.&#xA;&#xA;“Thomas,” Kali ini wali kelas anakku yang ambil alih, “Kamu bilang apa ke Sunu hingga dia marah?”&#xA;&#xA;Alih-alih menjawab, anak itu justru mencebik dan menyilangkan kedua tangan di depan dada. Dapat kutangkap kesan arogan menyebalkan khas anak kecil yang sok jagoan.&#xA;&#xA;“Sunu nggak punya Bapak, makanya dia sial terus nggak pernah bisa masukin bola ke gawang.”&#xA;&#xA;“Nggak ada hubungannya!” Sunu berteriak membalas.&#xA;&#xA;“Ada!”&#xA;&#xA;“Nggak!”&#xA;&#xA;“Ada hubungannya! Nggak ada yang ajarin kamu main bola karena nggak punya Bapak!”&#xA;&#xA;Keputusan yang kuambil di masa lalu atas dasar keinginan untuk dicintai sebanyak-banyaknya hanya oleh darah dagingku sendiri, ternyata justru menyusahkan dia yang kuharap bisa membuatku bahagia. Aku yang dulu sangat percaya diri berpikir bisa melindungi putraku dari berbagai macam masalah. Namun ternyata aku gagal. Aku tidak mampu melindungi dia dari rasa sakit.&#xA;&#xA;“Aku nggak butuh bapak buat ajarin main bola!”&#xA;&#xA;“Enough, boys.” suara wali kelas anakku yang tegas menghentikan pertengkaran Sunu dan Thomas.&#xA;&#xA;Sunu dan Thomas masing-masing mendapat konsekuensi dari perbuatan mereka. Keduanya kehilangan waktu recess selama lima belas menit dan harus tinggal di dalam kelas dengan pengawasan guru selama satu minggu. Putraku, Sunu, yang gemar bergerak tidak terima dengan hukuman yang ia terima karena dia tidak merasa bersalah.&#xA;&#xA;“But, Miss Hannah––”&#xA;&#xA;“No recess.”&#xA;&#xA;Sunu yang kecewa meninggalkan ruangan guru tanpa permisi, membuatku kembali meminta maaf pada wali kelas Sunu dan dua orangtua Thomas yang masih berada di sana. Ayah Thomas meminta maaf padaku setelahnya (sekedar basa-basi, aku tahu itu) dilanjutkan dengan Thomas dan ibunya yang mengikuti si Ayah namun dengan wajah terpaksa. Jujur saja, aku tidak peduli mereka tulus atau tidak. Karena saat ini yang aku khawatirkan adalah anakku yang marah dan kecewa dengan hukumannya.&#xA;&#xA;Sesaat setelah aku beranjak dari ruang guru, tak jauh dari tempatku Sunu menunggu di taman sekolah. Tak heran ia masih duduk di sana. Peraturan sekolah ini yang mengharuskan semua muridnya untuk tidak keluar area sekolah tanpa orangtua atau wali murid.&#xA;&#xA;“Hi,” kuusap rambut Sunu yang sedang duduk di ayunan. “Mau cerita, nggak?”&#xA;&#xA;Sunu masih menunduk tak mau menatapku. Aku kemudian bersimpuh untuk menyejajarkan pandangan kami berdua. &#xA;&#xA;“Kalau Sunu nggak nyaman, what if we pretend that we’re friends, not a son and his mum. You can call me by my name.” Jari kelingking aku julurkan ke hadapan Sunu. Pinky promise, memberikan kepastian bahwa ia boleh memanggilku dengan nama saja.&#xA;&#xA;“Really?”&#xA;&#xA;“Mhmm.”&#xA;&#xA;“Okay.”&#xA;&#xA;“So, how do you feel?”&#xA;&#xA;Raut wajah Sunu kembali mengeras, “Not so good. I’m disappointed.”&#xA;&#xA;“Sama siapa?”&#xA;&#xA;“Miss Hannah.” bisik Sunu lemah, “I can’t play tag tomorrow. I love playing tag.”&#xA;&#xA;Aku menatap baik-baik wajah putraku yang sedang dilanda kekecewaan besar. Bagi orang dewasa, menanggung konsekuensi dan tanggung jawab atas semua keputusan yang telah dibuat adalah hal biasa meskipun kadang memang menyebalkan. Namun untuk sekelas anak berusia lima tahun, dilarang melakukan aktivitas favoritnya adalah sebuah bencana. &#xA;&#xA;Satu hal penting yang aku pelajari di kelas parenting (saat memutuskan untuk mempertahankan Sunu dalam kandungan, aku mengikuti banyak sekali kelas-kelas tentang cara merawat anak) adalah dengan memberi validasi atas perasaan yang anak-anak rasakan.&#xA;&#xA;“I can tell that you’re disappointed, sweetie.” kugenggam kedua tangannya, “And it’s okay to feel that way.”&#xA;&#xA;“Is it?”&#xA;&#xA;Aku mengangguk kemudian kuarahkan tangan Sunu untuk menyentuh dadanya, “Boleh banget, dong. Karena apapun yang Sunu rasakan di sini, nggak akan pernah bisa bohong.”&#xA;&#xA;“How do you know?”&#xA;&#xA;Skeptikal dengan banyak hal yang berhubungan dengan perasaan, Sunu benar-benar putraku. Little did he know, aku pernah menanyakan hal yang sama pada ayahnya sepuluh tahun yang lalu. Miris rasanya mengingat hal ini terjadi saat aku dan ayahnya sudah berpisah. &#xA;&#xA;“How are you feeling?”&#xA;&#xA;“Bad.”&#xA;&#xA;“Can you pretend to be happy while you are, in fact, sad?”&#xA;&#xA;“Oh. I can’t.” poni anakku bergoyang saat ia kepalanya menggeleng. “Berarti, besok aku bisa marah sama Miss Hannah, dong?”&#xA;&#xA;“Hey! Nggak lah.”&#xA;&#xA;“But, why?!” tanya Sunu tidak terima.&#xA;&#xA;“Karena Miss Hannah nggak salah.”&#xA;&#xA;“Wait. I don’t get it.”&#xA;&#xA;Kakiku pegal jika duduk bersimpuh terlalu lama untuk menyejajarkan pandangan kami berdua,  namun rasa tersebut segera kutepis jauh-jauh. Kutatap bola mata putraku yang kelam seperti samudra. Ada kejujuran dan kekecewaan terpancar dari keduanya. &#xA;&#xA;“Well, Sunu harus bisa bedakan mana yang namanya feeling dan action.”&#xA;&#xA;“Mmhm.”&#xA;&#xA;“Feeling itu sumbernya ada di hati, tapi action sumbernya ada di sini.”&#xA;&#xA;Sunu menyentuh keningnya sendiri dengan jari telunjuknya mengikuti gerakanku, “Kepala?”&#xA;&#xA;“Apa yang ada di dalam kepala, Sayang?”&#xA;&#xA;“Otak.”&#xA;&#xA;“Exactly. Sunu masih ingat fungsi otak manusia untuk apa?”&#xA;&#xA;“Untuk berpikir?”&#xA;&#xA;Pertanyaan barusan mengingatkanku pada Sunu saat ia masih baru belajar berjalan. Putraku sebagai seorang bayi terlampau lincah dan aktif untukku yang tidak suka aktivitas dengan yang banyak geraknya. Sebagai kegiatan penyeimbang, aku suka memutar video animasi tentang sains yang diunggah secara gratis di internet. Usahaku membuahkan hasil. Sunu kecil senang sekali jika sudah masuk waktunya menonton televisi. Alhasil, ia cukup banyak tahu tentang fenomena alam dan bagian-bagian tubuh manusia sejak dini. &#xA;&#xA;“Awesome!” Air muka Sunu perlahan berubah dari kecewa menjadi senang secara perlahan. Putraku, memang dari kecil ia paling suka dipuji. “Menurut Sunu, marah-marah ke ibu guru salah, nggak?”&#xA;&#xA;“Hmmm.” Sunu menyilangkan kedua tangan di depan dada pertanda ia sedang berpikir atau membuat keputusan. “Depends?”&#xA;&#xA;Memandang wajah Sunu seringkali mengingatkanku pada ayahnya. Namun melihat bagaimana ia bersikap sehari-hari, tidak bisa bohong bahwa aku seperti berkaca melihat diri sendiri di masa lalu sebagai anak-anak. Kami berdua sama-sama keras kepala dan sulit diajak bernegosiasi, merasa pendapat sendiri adalah yang paling benar. &#xA;&#xA;Kalau boleh jujur, Sunu dengan sifatnya yang seperti ini membuatku merasa sedih. Dari semua hal yang bisa diturunkan padanya, kenapa harus satu hal yang sering menyulitkanku membangun hubungan baik dengan orang lain? Insiden di sekolah yang baru saja terjadi adalah suatu pukulan telak untukku; keegoisan masa mudaku untuk punya anak supaya bisa disayang secara tulus, ternyata hanya membawa petaka untuk dia yang tidak pernah minta dilahirkan ke dunia.&#xA;&#xA;“Depends on?”&#xA;&#xA;“Kalau salah ya harus dimarahi.”&#xA;&#xA;“Memangnya, aku pernah marah sama Sunu kalau kamu salah?”&#xA;&#xA;Sunu kembali berpikir sejenak, kemudian ia menggeleng pelan. “Nope. Kamu nggak pernah marah-marah sama aku.”&#xA;&#xA;“Itulah bedanya feeling dan action, Sunu.” &#xA;&#xA;Pelan-pelan aku beri putraku pengertian tentang bagaimana ia boleh merasakan apapun dan tidak apa-apa jika perasaan tersebut membuatnya tidak nyaman. Karena begitulah rasa. Tidak selamanya dia manis seperti cokelat dan membuat mereka yang merasakan jadi senang. &#xA;&#xA;“While action is the way you behave based on your feelings.” Lagi-lagi aku raih jari-jari mungilnya dan kukecup dengan sayang. “I kissed your fingers because this is how I express my love to you. Do you like it?”&#xA;&#xA;“I do.”&#xA;&#xA;“Is it okay for me to kiss your fingers once again?”&#xA;&#xA;“Sure.”&#xA;&#xA;“This is an example of an appropriate action. You allowed me to kiss your fingers. I’m happy and so are you.” Lagi-lagi aku cium dengan sayang jari-jarinya. “Tapi, apa Sunu senang kalau aku marah-marah saat Sunu melakukan kesalahan?”&#xA;&#xA;Ia menggeleng dengan kencang, “Nope.”&#xA;&#xA;“Itulah yang dinamakan aksi, Sayang.” Balasku sembari terus menatap kedua matanya dengan dalam, “Aksi adalah... apapun yang kamu lakukan, dengan badanmu, saat kamu merasakan sesuatu.”&#xA;&#xA;Penjelasanku barusan membuatku meringis. Jujur saja, aku agak kesulitan merangkai kata-kata yang mudah dicerna anak-anak untuk masalah ini.&#xA;&#xA;“Sunu punya otak yang sehat dan bisa dipakai untuk berpikir. Apakah yang kamu lakukan bakal melukai orang lain? Apakah aksi itu akan melukai diri sendiri?”&#xA;&#xA;Sunu terdiam sejenak, kemudian ia bertanya, “Jadi, ketika aku kecewa dengan Miss Hannah, atau siapapun, aku harus berpikir sebelum merespon?”&#xA;&#xA;“Ideally, yes. But most of the time, it’s difficult to control our actions. It takes a lot of time to practice. Worry not, you still have plenty of them— so much time to learn.”&#xA;&#xA;Anakku hanya mengedikkan bahu setelahnya dan berbisik bahwa dia mengerti. Besok, Sunu berjanji akan minta maaf pada Miss Hannah karena telah membuat keributan dan karena tidak sopan telah meninggalkan ruangan guru tanpa permisi setelah diberi hukuman.&#xA;&#xA;Sore ini kami berjalan pulang dengan bergandengan tangan menuju tempat parkir. Aku dan putraku, Sunu, kami berdua sama-sama belajar hal baru dengan kejadian barusan. Aku yang baru saja sadar bahwa tugasku jadi orangtua tunggal akan semakin berat seiring dengan berjalannya waktu, dan putraku yang baru saja mengenal cara membedakan aksi dan perasaan.&#xA;&#xA;Semua ini tidak mudah; meninggalkan zona nyaman atas pemikiran dan pandangan yang pernah kita anut di waktu yang lampau menuju hal baru yang asing untuk diri sendiri. Tapi tidak apa-apa. Seperti yang aku katakan pada Sunu sore ini, kita masih punya banyak, banyak sekali waktu untuk belajar.&#xA;&#xA;Toh, durasinya memang sepanjang usia kita menetap di dunia, kan?]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://qayoozian.writeas.com/tag:Sunu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Sunu</span></a> dan Ibuk vs The World — 2</p>

<p>Putraku Sunu jarang sekali menangis, bahkan ketika ia masih menjadi bayi yang hanya tau cara berkomunikasi lewat tangisan.  Anak itu seperti mengerti secara otomatis dengan kondisinya yang hanya hidup berdua saja dengan Ibu yang juga lelah karena bekerja. Namun sayangnya, hal itu terbawa hingga ia tumbuh besar.</p>

<p>Sunu memang jarang menangis, namun ia mengekspresikan isi hatinya dengan cara lain. Yaitu dengan berteriak dan mengeluarkan amarah yang amat besar.</p>

<p>“<em>He punched me!</em>” Thomas, si anak laki-laki berbadan besar berteriak sambil menangis.</p>

<p>“<em>You mocked me!</em>”</p>

<p>“<em>I told the truth!</em>”</p>

<p>Kugenggam tangan mungil Sunu yang mengepal bersiap untuk menumpahkan tinjunya. Karena ia duduk menempel di sampingku, dapat kurasakan bahunya yang bergetar menahan marah.</p>

<p>“Thomas,” Kali ini wali kelas anakku yang ambil alih, “Kamu bilang apa ke Sunu hingga dia marah?”</p>

<p>Alih-alih menjawab, anak itu justru mencebik dan menyilangkan kedua tangan di depan dada. Dapat kutangkap kesan arogan menyebalkan khas anak kecil yang sok jagoan.</p>

<p>“Sunu nggak punya Bapak, makanya dia sial terus nggak pernah bisa masukin bola ke gawang.”</p>

<p>“Nggak ada hubungannya!” Sunu berteriak membalas.</p>

<p>“Ada!”</p>

<p>“Nggak!”</p>

<p>“Ada hubungannya! Nggak ada yang ajarin kamu main bola karena nggak punya Bapak!”</p>

<p>Keputusan yang kuambil di masa lalu atas dasar keinginan untuk dicintai sebanyak-banyaknya hanya oleh darah dagingku sendiri, ternyata justru menyusahkan dia yang kuharap bisa membuatku bahagia. Aku yang dulu sangat percaya diri berpikir bisa melindungi putraku dari berbagai macam masalah. Namun ternyata aku gagal. Aku tidak mampu melindungi dia dari rasa sakit.</p>

<p>“Aku nggak butuh bapak buat ajarin main bola!”</p>

<p>“<em>Enough, boys</em>.” suara wali kelas anakku yang tegas menghentikan pertengkaran Sunu dan Thomas.</p>

<p>Sunu dan Thomas masing-masing mendapat konsekuensi dari perbuatan mereka. Keduanya kehilangan waktu recess selama lima belas menit dan harus tinggal di dalam kelas dengan pengawasan guru selama satu minggu. Putraku, Sunu, yang gemar bergerak tidak terima dengan hukuman yang ia terima karena dia tidak merasa bersalah.</p>

<p>“<em>But, Miss Hannah––</em>”</p>

<p><em>“No recess.”</em></p>

<p>Sunu yang kecewa meninggalkan ruangan guru tanpa permisi, membuatku kembali meminta maaf pada wali kelas Sunu dan dua orangtua Thomas yang masih berada di sana. Ayah Thomas meminta maaf padaku setelahnya (sekedar basa-basi, aku tahu itu) dilanjutkan dengan Thomas dan ibunya yang mengikuti si Ayah namun dengan wajah terpaksa. Jujur saja, aku tidak peduli mereka tulus atau tidak. Karena saat ini yang aku khawatirkan adalah anakku yang marah dan kecewa dengan hukumannya.</p>

<p>Sesaat setelah aku beranjak dari ruang guru, tak jauh dari tempatku Sunu menunggu di taman sekolah. Tak heran ia masih duduk di sana. Peraturan sekolah ini yang mengharuskan semua muridnya untuk tidak keluar area sekolah tanpa orangtua atau wali murid.</p>

<p><em>“Hi,”</em> kuusap rambut Sunu yang sedang duduk di ayunan. “Mau cerita, nggak?”</p>

<p>Sunu masih menunduk tak mau menatapku. Aku kemudian bersimpuh untuk menyejajarkan pandangan kami berdua.</p>

<p>“Kalau Sunu nggak nyaman, <em>what if we pretend that we’re friends, not a son and his mum. You can call me by my name</em>.” Jari kelingking aku julurkan ke hadapan Sunu. <em>Pinky promise</em>, memberikan kepastian bahwa ia boleh memanggilku dengan nama saja.</p>

<p><em>“Really?”</em></p>

<p>“Mhmm.”</p>

<p>“<em>Okay.”</em></p>

<p><em>“So, how do you feel?”</em></p>

<p>Raut wajah Sunu kembali mengeras, <em>“Not so good. I’m disappointed.”</em></p>

<p>“Sama siapa?”</p>

<p>“Miss Hannah.” bisik Sunu lemah, <em>“I can’t play tag tomorrow. I love playing tag.”</em></p>

<p>Aku menatap baik-baik wajah putraku yang sedang dilanda kekecewaan besar. Bagi orang dewasa, menanggung konsekuensi dan tanggung jawab atas semua keputusan yang telah dibuat adalah hal biasa meskipun kadang memang menyebalkan. Namun untuk sekelas anak berusia lima tahun, dilarang melakukan aktivitas favoritnya adalah sebuah bencana.</p>

<p>Satu hal penting yang aku pelajari di kelas parenting (saat memutuskan untuk mempertahankan Sunu dalam kandungan, aku mengikuti banyak sekali kelas-kelas tentang cara merawat anak) adalah dengan memberi validasi atas perasaan yang anak-anak rasakan.</p>

<p><em>“I can tell that you’re disappointed, sweetie.”</em> kugenggam kedua tangannya, <em>“And it’s okay to feel that way.”</em></p>

<p><em>“Is it?”</em></p>

<p>Aku mengangguk kemudian kuarahkan tangan Sunu untuk menyentuh dadanya, “Boleh banget, dong. Karena apapun yang Sunu rasakan di sini, nggak akan pernah bisa bohong.”</p>

<p><em>“How do you know?”</em></p>

<p>Skeptikal dengan banyak hal yang berhubungan dengan perasaan, Sunu benar-benar putraku. <em>Little did he know</em>, aku pernah menanyakan hal yang sama pada ayahnya sepuluh tahun yang lalu. Miris rasanya mengingat hal ini terjadi saat aku dan ayahnya sudah berpisah.</p>

<p><em>“How are you feeling?”</em></p>

<p><em>“Bad.”</em></p>

<p>“Can you pretend to be happy while you are, in fact, sad?”</p>

<p><em>“Oh. I can’t.</em>” poni anakku bergoyang saat ia kepalanya menggeleng. “Berarti, besok aku bisa marah sama Miss Hannah, dong?”</p>

<p>“Hey! Nggak lah.”</p>

<p>“But, why?!” tanya Sunu tidak terima.</p>

<p>“Karena Miss Hannah nggak salah.”</p>

<p><em>“Wait. I don’t get it.”</em></p>

<p>Kakiku pegal jika duduk bersimpuh terlalu lama untuk menyejajarkan pandangan kami berdua,  namun rasa tersebut segera kutepis jauh-jauh. Kutatap bola mata putraku yang kelam seperti samudra. Ada kejujuran dan kekecewaan terpancar dari keduanya.</p>

<p>“Well, Sunu harus bisa bedakan mana yang namanya feeling dan action.”</p>

<p>“Mmhm.”</p>

<p>“Feeling itu sumbernya ada di hati, tapi action sumbernya ada di sini.”</p>

<p>Sunu menyentuh keningnya sendiri dengan jari telunjuknya mengikuti gerakanku, “Kepala?”</p>

<p>“Apa yang ada di dalam kepala, Sayang?”</p>

<p>“Otak.”</p>

<p>“<em>Exactly</em>. Sunu masih ingat fungsi otak manusia untuk apa?”</p>

<p>“Untuk berpikir?”</p>

<p>Pertanyaan barusan mengingatkanku pada Sunu saat ia masih baru belajar berjalan. Putraku sebagai seorang bayi terlampau lincah dan aktif untukku yang tidak suka aktivitas dengan yang banyak geraknya. Sebagai kegiatan penyeimbang, aku suka memutar video animasi tentang sains yang diunggah secara gratis di internet. Usahaku membuahkan hasil. Sunu kecil senang sekali jika sudah masuk waktunya menonton televisi. Alhasil, ia cukup banyak tahu tentang fenomena alam dan bagian-bagian tubuh manusia sejak dini.</p>

<p><em>“Awesome!”</em> Air muka Sunu perlahan berubah dari kecewa menjadi senang secara perlahan. Putraku, memang dari kecil ia paling suka dipuji. “Menurut Sunu, marah-marah ke ibu guru salah, nggak?”</p>

<p>“Hmmm.” Sunu menyilangkan kedua tangan di depan dada pertanda ia sedang berpikir atau membuat keputusan. <em>“Depends?”</em></p>

<p>Memandang wajah Sunu seringkali mengingatkanku pada ayahnya. Namun melihat bagaimana ia bersikap sehari-hari, tidak bisa bohong bahwa aku seperti berkaca melihat diri sendiri di masa lalu sebagai anak-anak. Kami berdua sama-sama keras kepala dan sulit diajak bernegosiasi, merasa pendapat sendiri adalah yang paling benar.</p>

<p>Kalau boleh jujur, Sunu dengan sifatnya yang seperti ini membuatku merasa sedih. Dari semua hal yang bisa diturunkan padanya, kenapa harus satu hal yang sering menyulitkanku membangun hubungan baik dengan orang lain? Insiden di sekolah yang baru saja terjadi adalah suatu pukulan telak untukku; keegoisan masa mudaku untuk punya anak supaya bisa disayang secara tulus, ternyata hanya membawa petaka untuk dia yang tidak pernah minta dilahirkan ke dunia.</p>

<p>“Depends on?”</p>

<p>“Kalau salah ya harus dimarahi.”</p>

<p>“Memangnya, aku pernah marah sama Sunu kalau kamu salah?”</p>

<p>Sunu kembali berpikir sejenak, kemudian ia menggeleng pelan. “Nope. Kamu nggak pernah marah-marah sama aku.”</p>

<p>“Itulah bedanya feeling dan action, Sunu.”</p>

<p>Pelan-pelan aku beri putraku pengertian tentang bagaimana ia boleh merasakan apapun dan tidak apa-apa jika perasaan tersebut membuatnya tidak nyaman. Karena begitulah rasa. Tidak selamanya dia manis seperti cokelat dan membuat mereka yang merasakan jadi senang.</p>

<p><em>“While action is the way you behave based on your feelings.”</em> Lagi-lagi aku raih jari-jari mungilnya dan kukecup dengan sayang. <em>“I kissed your fingers because this is how I express my love to you. Do you like it?”</em></p>

<p><em>“I do.”</em></p>

<p><em>“Is it okay for me to kiss your fingers once again?”</em></p>

<p><em>“Sure.”</em></p>

<p><em>“This is an example of an appropriate action. You allowed me to kiss your fingers. I’m happy and so are you.”</em> Lagi-lagi aku cium dengan sayang jari-jarinya. “Tapi, apa Sunu senang kalau aku marah-marah saat Sunu melakukan kesalahan?”</p>

<p>Ia menggeleng dengan kencang, <em>“Nope.”</em></p>

<p>“Itulah yang dinamakan aksi, Sayang.” Balasku sembari terus menatap kedua matanya dengan dalam, “Aksi adalah... apapun yang kamu lakukan, dengan badanmu, saat kamu merasakan sesuatu.”</p>

<p>Penjelasanku barusan membuatku meringis. Jujur saja, aku agak kesulitan merangkai kata-kata yang mudah dicerna anak-anak untuk masalah ini.</p>

<p>“Sunu punya otak yang sehat dan bisa dipakai untuk berpikir. Apakah yang kamu lakukan bakal melukai orang lain? Apakah aksi itu akan melukai diri sendiri?”</p>

<p>Sunu terdiam sejenak, kemudian ia bertanya, “Jadi, ketika aku kecewa dengan Miss Hannah, atau siapapun, aku harus berpikir sebelum merespon?”</p>

<p><em>“Ideally, yes. But most of the time, it’s difficult to control our actions. It takes a lot of time to practice. Worry not, you still have plenty of them— so much time to learn.”</em></p>

<p>Anakku hanya mengedikkan bahu setelahnya dan berbisik bahwa dia mengerti. Besok, Sunu berjanji akan minta maaf pada Miss Hannah karena telah membuat keributan dan karena tidak sopan telah meninggalkan ruangan guru tanpa permisi setelah diberi hukuman.</p>

<p>Sore ini kami berjalan pulang dengan bergandengan tangan menuju tempat parkir. Aku dan putraku, Sunu, kami berdua sama-sama belajar hal baru dengan kejadian barusan. Aku yang baru saja sadar bahwa tugasku jadi orangtua tunggal akan semakin berat seiring dengan berjalannya waktu, dan putraku yang baru saja mengenal cara membedakan aksi dan perasaan.</p>

<p>Semua ini tidak mudah; meninggalkan zona nyaman atas pemikiran dan pandangan yang pernah kita anut di waktu yang lampau menuju hal baru yang asing untuk diri sendiri. Tapi tidak apa-apa. Seperti yang aku katakan pada Sunu sore ini, kita masih punya banyak, banyak sekali waktu untuk belajar.</p>

<p>Toh, durasinya memang sepanjang usia kita menetap di dunia, kan?</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qayoozian.writeas.com/sunu-dan-ibuk-vs-the-world-2</guid>
      <pubDate>Sun, 19 Sep 2021 06:44:33 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sunu dan Ibuk vs The World - 1</title>
      <link>https://qayoozian.writeas.com/sunu-and-ibuk-vs-the-world-1?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sunu dan Ibuk vs The World - 1&#xA;&#xA;Hingga detik ini, aku masih menganggap keinginan memiliki anak adalah sebentuk keegoisan manusia.&#xA;&#xA;!--more--&#xA;&#xA;Ada lebih dari tujuh miliar orang hidup di dunia dan tidak semua mendapat kehidupan yang layak. Di negaraku sendiri bahkan ada yang tega mengambil dana bantuan operasional sekolah untuk anak-anak yang kurang mampu. Bayangkan jika setiap kepala yang hidup dan bernapas punya keinginan untuk punya keturunan, berapa banyak lagi tambahan manusia yang harus diurus pemerintah yang tidak kompeten ini? Membayangkan sosok anak kecil mengemis di jalan membuat hatiku sakit sekali.&#xA;&#xA;Meskipun kenyataan di lapangan telah memberiku bayangan bahwa punya keturunan lebih banyak ruginya dan tidak membuat keadaan dunia menjadi lebih baik, pada akhirnya aku mengandung dan melahirkan seorang anak. Benar-benar sebuah ironi. Aku yakin, diriku di masa lalu akan menertawakan keputusan yang kubuat untuknya di masa sekarang&#xA;&#xA;Dia lahir saat aku sedang ada di puncak karirku. Tas-tas kulit harga jutaan terpajang dengan rapi di lemari kaca, ponsel dan laptop termutakhir terpampang di meja, semua itu sudah biasa. Namun di saat yang sama aku sering merasa kesepian dan butuh teman. Sayangnya, aku terlalu takut untuk berkomitmen jangka panjang dengan seorang pria.&#xA;&#xA;Alasannya, sosok lelaki selalu mengingatkanku akan patah hati—patah hati atas lemparan benda tumpul terdekat yang mampir di badan, patah hati atas tidak adanya proteksi di hari paling menyeramkan seorang anak yang tak berdaya, patah hati atas ketiadaan permintaan maaf saat kalimat tersebut satu-satunya yang diharapkan setelah menangis meraung-raung semalaman.&#xA;&#xA;(Dibanding takut lelaki, rasanya kata benci pada kaum adam lebih tepat digunakan untuk mendeskripsikan situasiku)&#xA;&#xA;Toh, akhirnya kuputuskan untuk mempertahankan janin itu. Di pagi hari pada bulan April, seorang bayi berjenis kelamin laki-laki lahir atas keegoisanku yang ingin dicintai sebanyak-banyaknya.&#xA;&#xA;Lagi-lagi dunia seperti memberikan tamparan keras padaku. Aku, yang membenci laki-laki, melahirkan sosok yang kubenci setengah mati. &#xA;&#xA;—&#xA;&#xA;Anak lelakiku yang bernama Sunu tumbuh dengan baik tanpa sosok Ayah di sisinya.&#xA;&#xA;Membesarkan putraku seorang diri bukanlah perihal mudah. Tapi, mengingat betapa bencinya aku dengan lelaki dan melihat betapa sehat dan lebarnya senyum anakku setiap hari, rasanya aku ingin berteriak kencang di depan para kaum adam, “Lihat! Aku seorang perempuan, mampu membesarkan sendiri anak laki-laki menjadi manusia yang baik! Tidak tumbuh seperti kalian!”&#xA;&#xA;(Aku pun melakukannya di depan orangtuaku yang dulu sempat menentang kehadiran janin ini.)&#xA;&#xA;Namun seiring dengan berjalannya waktu, tidak bisa disangkal bahwa sosok yang kubesarkan dengan tanganku sendiri ini punya fisik yang terlampau mirip dengan ayahnya. Lelaki yang sangat aku cintai tetapi pada akhirnya kuminta untuk pergi. Rambutnya yang hitam legam agak ikal dan tebal jika dibiarkan panjang. Bola matanya gelap seperti lautan yang dalam––mengingatkanku pada mata ayahnya yang kerap kuselami saat kami bercinta dulu. Tidak bisa kusangkal, sejauh apapun lelaki itu kuminta untuk pergi, aku masih bisa melihat jejaknya di sampingku.&#xA;&#xA;Suatu hari disaat pekerjaanku sedang banyak dan membuat sakit kepala, wali kelas Sunu menelpon. Katanya, putraku berkelahi dengan teman sekelas dan orangtua anak itu tidak terima. Kuputuskan untuk pulang kerja lebih awal dan segera kutemui putraku di sekolah.&#xA;&#xA;Hal pertama yang aku lihat sore itu adalah sepasang suami istri muda dengan wajah tidak ramah. Pegangan tanganku pada tas kulit yang kubawa semakin erat. Semua ini mengingatkanku pada diriku sendiri puluhan tahun lalu saat disidang di sekolah. Banyak sekali kilasan memori tidak menyenangkan mendadak berputar di kepala. Tentang anggapan orangtuaku yang gagal mendidik anaknya, atau tentangku yang nakal dan menyusahkan semua orang.&#xA;&#xA;Aku benci mengingat bahwa semua orang dewasa di saat itu tidak memberi validasi atas perasaanku yang terluka dan tidak mau terima alasan kenapa aku berbuat onar.&#xA;&#xA;“Saya ayahnya Thomas.” suara berat dengan aksen amerika yang kental memaksaku untuk kembali dari kenangan masa lalu. “Anak Anda meninju wajah anak saya sampai biru.”&#xA;&#xA;“Boleh saya bicara dengan anak saya dulu?”&#xA;&#xA;Wali kelas Sunu mempersilahkan aku untuk menghampiri putraku di sudut ruangan. Ia duduk dengan kedua tangan erat mencengkram kedua lutut. Kepala menunduk dan tidak kulihat ia mau menatap semua orang di ruangan tersebut.&#xA;&#xA;“Hey, Love.” bisikku di dekat Sunu, tanganku mengelus pelan bahunya yang tegang. “Ibuk di sini.”&#xA;&#xA;Sunu perlahan mengangkat wajahnya. Terlihat bahwa ia sangat marah dengan tanda gigi yang bergemeretak. “Aku nggak suka. Aku nggak suka Thomas bilang hidupku sial karena gak punya Bapak.”&#xA;&#xA;Hatiku seakan retak dan hancur mendengar suara putraku yang menahan tangis karena dihina keluarganya tidak lengkap.&#xA;&#xA;–&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://qayoozian.writeas.com/tag:Sunu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Sunu</span></a> dan Ibuk vs The World – 1</p>

<p>Hingga detik ini, aku masih menganggap keinginan memiliki anak adalah sebentuk keegoisan manusia.</p>



<p>Ada lebih dari tujuh miliar orang hidup di dunia dan tidak semua mendapat kehidupan yang layak. Di negaraku sendiri bahkan ada yang tega mengambil dana bantuan operasional sekolah untuk anak-anak yang kurang mampu. Bayangkan jika setiap kepala yang hidup dan bernapas punya keinginan untuk punya keturunan, berapa banyak lagi tambahan manusia yang harus diurus pemerintah yang tidak kompeten ini? Membayangkan sosok anak kecil mengemis di jalan membuat hatiku sakit sekali.</p>

<p>Meskipun kenyataan di lapangan telah memberiku bayangan bahwa punya keturunan lebih banyak ruginya dan tidak membuat keadaan dunia menjadi lebih baik, pada akhirnya aku mengandung dan melahirkan seorang anak. Benar-benar sebuah ironi. Aku yakin, diriku di masa lalu akan menertawakan keputusan yang kubuat untuknya di masa sekarang</p>

<p>Dia lahir saat aku sedang ada di puncak karirku. Tas-tas kulit harga jutaan terpajang dengan rapi di lemari kaca, ponsel dan laptop termutakhir terpampang di meja, semua itu sudah biasa. Namun di saat yang sama aku sering merasa kesepian dan butuh teman. Sayangnya, aku terlalu takut untuk berkomitmen jangka panjang dengan seorang pria.</p>

<p>Alasannya, sosok lelaki selalu mengingatkanku akan patah hati—patah hati atas lemparan benda tumpul terdekat yang mampir di badan, patah hati atas tidak adanya proteksi di hari paling menyeramkan seorang anak yang tak berdaya, patah hati atas ketiadaan permintaan maaf saat kalimat tersebut satu-satunya yang diharapkan setelah menangis meraung-raung semalaman.</p>

<p>(Dibanding takut lelaki, rasanya kata benci pada kaum adam lebih tepat digunakan untuk mendeskripsikan situasiku)</p>

<p>Toh, akhirnya kuputuskan untuk mempertahankan janin itu. Di pagi hari pada bulan April, seorang bayi berjenis kelamin laki-laki lahir atas keegoisanku yang ingin dicintai sebanyak-banyaknya.</p>

<p>Lagi-lagi dunia seperti memberikan tamparan keras padaku. Aku, yang membenci laki-laki, melahirkan sosok yang kubenci setengah mati.</p>

<p>—</p>

<p>Anak lelakiku yang bernama Sunu tumbuh dengan baik tanpa sosok Ayah di sisinya.</p>

<p>Membesarkan putraku seorang diri bukanlah perihal mudah. Tapi, mengingat betapa bencinya aku dengan lelaki dan melihat betapa sehat dan lebarnya senyum anakku setiap hari, rasanya aku ingin berteriak kencang di depan para kaum adam, “Lihat! Aku seorang perempuan, mampu membesarkan sendiri anak laki-laki menjadi manusia yang baik! Tidak tumbuh seperti kalian!”</p>

<p>(Aku pun melakukannya di depan orangtuaku yang dulu sempat menentang kehadiran janin ini.)</p>

<p>Namun seiring dengan berjalannya waktu, tidak bisa disangkal bahwa sosok yang kubesarkan dengan tanganku sendiri ini punya fisik yang terlampau mirip dengan ayahnya. Lelaki yang sangat aku cintai tetapi pada akhirnya kuminta untuk pergi. Rambutnya yang hitam legam agak ikal dan tebal jika dibiarkan panjang. Bola matanya gelap seperti lautan yang dalam––mengingatkanku pada mata ayahnya yang kerap kuselami saat kami bercinta dulu. Tidak bisa kusangkal, sejauh apapun lelaki itu kuminta untuk pergi, aku masih bisa melihat jejaknya di sampingku.</p>

<p>Suatu hari disaat pekerjaanku sedang banyak dan membuat sakit kepala, wali kelas Sunu menelpon. Katanya, putraku berkelahi dengan teman sekelas dan orangtua anak itu tidak terima. Kuputuskan untuk pulang kerja lebih awal dan segera kutemui putraku di sekolah.</p>

<p>Hal pertama yang aku lihat sore itu adalah sepasang suami istri muda dengan wajah tidak ramah. Pegangan tanganku pada tas kulit yang kubawa semakin erat. Semua ini mengingatkanku pada diriku sendiri puluhan tahun lalu saat disidang di sekolah. Banyak sekali kilasan memori tidak menyenangkan mendadak berputar di kepala. Tentang anggapan orangtuaku yang gagal mendidik anaknya, atau tentangku yang nakal dan menyusahkan semua orang.</p>

<p>Aku benci mengingat bahwa semua orang dewasa di saat itu tidak memberi validasi atas perasaanku yang terluka dan tidak mau terima alasan kenapa aku berbuat onar.</p>

<p>“Saya ayahnya Thomas.” suara berat dengan aksen amerika yang kental memaksaku untuk kembali dari kenangan masa lalu. “Anak Anda meninju wajah anak saya sampai biru.”</p>

<p>“Boleh saya bicara dengan anak saya dulu?”</p>

<p>Wali kelas Sunu mempersilahkan aku untuk menghampiri putraku di sudut ruangan. Ia duduk dengan kedua tangan erat mencengkram kedua lutut. Kepala menunduk dan tidak kulihat ia mau menatap semua orang di ruangan tersebut.</p>

<p>“Hey, Love.” bisikku di dekat Sunu, tanganku mengelus pelan bahunya yang tegang. “Ibuk di sini.”</p>

<p>Sunu perlahan mengangkat wajahnya. Terlihat bahwa ia sangat marah dengan tanda gigi yang bergemeretak. “Aku nggak suka. Aku nggak suka Thomas bilang hidupku sial karena gak punya Bapak.”</p>

<p>Hatiku seakan retak dan hancur mendengar suara putraku yang menahan tangis karena dihina keluarganya tidak lengkap.</p>

<p>–</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qayoozian.writeas.com/sunu-and-ibuk-vs-the-world-1</guid>
      <pubDate>Sun, 22 Aug 2021 11:26:43 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>### Kali Pertama Jadi Manusia (#Sunu)</title>
      <link>https://qayoozian.writeas.com/kali-pertama-jadi-manusia?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[### Kali Pertama Jadi Manusia (#Sunu)&#xA;&#xA;Ibu suka lupa bahwa hidup yang ia jalani sekarang merupakan kali pertamanya menjadi manusia.&#xA;!--more--&#xA;Banyak sekali kejadian yang membuatnya kembali berpikir ulang; mengenai keputusannya untuk setuju dijodohkan dengan bapak, batal sekolah doktoral dan memilih untuk punya dua orang anak, menolak dimutasi ke tempat lain karena punya keluarga di sini yang butuh sosok seorang ibu.&#xA;&#xA;Lagi-lagi semua pertanyaan dan pengandaian yang ada di kepala cuma bisa dituang ke dalam buku catatan atau aplikasi untuk menulis dalam ponsel (Ibu terlalu takut cerita sama Bapak kemudian melukai hati lelaki itu). Semua catatan tersebut digunakannya sebagai pedoman hidup untuk melangkah dan melanjutkan sisa umur yang ada. Gunanya sama seperti jurnal ilmiah ketika sedang menulis skripsi, berfungsi sebagai landasan teori sebelum melangkah melakukan penelitian. &#xA;&#xA;Waktu menunjukkan pukul tujuh malam ketika Ibu baru saja pulang kerja. Perempuan itu berpikir rumahnya kosong. Bapak masih dalam perjalanan menjemput si bungsu di rumah nenek, sedangkan si sulung masih sibuk dengan apapun yang melibatkan kegiatan kampus. Waktu yang tepat buat Ibu untuk minum soda di ruang jemuran sambil merenung dan menatap langit malam, jarang sekali ia punya waktu seperti ini setelah berkeluarga.&#xA;&#xA;Beberapa saat kemudian Ibu sudah siap dengan soda di tangan. Namun ia sedikit terkejut saat sampai di ruang jemuran, dirinya malah melihat bayangan seseorang dengan rokok terselip di tangan. Entitas tersebut rupanya nggak sadar dengan keberadaan Ibu, yang pelan-pelan berjalan mendekat setelah meraih sapu di samping pintu sebagai alat perlindungan. &#xA;&#xA;&#34;Aduh!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lho, Mas?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ibuk?!&#34;&#xA;&#xA;Dalam kepala Ibu, berjuta-juta tanda tanya muncul seketika setelah melihat anak sulungnya, nampaknya sembunyi-sembunyi, sendirian, di ruang jemuran, sedang merokok. Ibu salah apa, ya? Bagian mana yang kurang dari cara mendidiknya sampai si anak sulung merokok diam-diam? Kenapa si sulung nggak sepenuhnya terbuka dengan dia atau bapaknya?&#xA;&#xA;Ah, iya, akhirnya ia ingat. Ini pertama kalinya dia jadi manusia. Banyak sekali hal-hal yang dia belum tau, bahkan ketika usianya sudah mencapai setengah abad.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Sakit, tau, buk!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya, maaf...&#34; Ibu meringis sembari mengusap-usap punggung anak sulungnya yang baru saja ia pukul pakai gagang sapu, &#34;Ibu kira ada maling.&#34;&#xA;&#xA;Si anak sulung mendengus, masih kesal karena dikira orang asing dengan niat jahat. &#34;Mana ada maling sempet nyebat di rumah yang mau dicuri.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Refleks Ibu kalau ada orang asing langsung aja pukul dan serang supaya menjauh.&#34; Seketika si perempuan tersenyum kecut, mengingat kebiasaannya yang tidak berubah bahkan setelah menikah dan punya anak.&#xA;&#xA;Langit malam itu terlihat cantik dengan jutaan bintang berkelap-kelip, seperti langit kamar si anak sulung ketika masih bocah. Bedanya, bintang di kamar hanyalah benda plastik artifisial yang cahayanya habis setelah nyaris setahun ditempel di langit-langit kamar. &#xA;&#xA;&#34;Mas mau soda?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Boleh?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kan ibu yang tawarin ke Mas Sunu.&#34;&#xA;&#xA;Si anak laki-laki masih menatap wajah ibunya ragu, meskipun nggak terlalu jelas mengingat sumber cahaya di situ hanya bintang di langit dan lampu jalan yang nggak seberapa terang. &#34;Tapi mulut aku bau rokok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya udah nggak apa-apa, dari mulut kamu juga.&#34;&#xA;&#xA;Sunu meraih soda di tangan ibu dan meminumnya seteguk, kembali memandang langit. &#34;Setauku ibu nggak suka perokok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tau dari mana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ibu nggak merokok.&#34;&#xA;&#xA;Si ibu tertawa dengan kesimpulan yang baru saja diambil putranya. Memang sih, selama ini keluarga mereka menerapkan pola hidup sehat. Ibu nggak makan daging merah dan lebih memilih konsumsi makanan laut dibanding ayam. Bapak pun juga demikian, efek dari hidup bersama si Ibu.&#xA;&#xA;&#34;Mas kenapa nggak cerita sama Ibu?&#34; tanya si perempuan yang lebih tua sambil mengelus rambut putranya.&#xA;&#xA;Sebenarnya ia sudah tahu jawaban yang akan keluar dari mulut Sunu. Apalagi kalau bukan takut dimarahi? Takut membuatnya kesal? Dirinya juga pernah muda, pernah jadi seorang anak yang melakukan banyak hal diam-diam karena takut mendapat respon tidak diinginkan dari orang tua. Namun ia akan tetap bertanya meskipun tahu jawabannya. Perempuan itu penasaran dengan apa yang dirasakan putra sulungnya.&#xA;&#xA;&#34;Ya, nanti uang jajan aku dipotong.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Berarti ngaku dong, beli rokok pake uang jajan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Awalnya iya.&#34; Sunu kembali meminum soda milik Ibu, &#34;Tapi sekarang kan aku ngeband, bu. Punya uang tambahan. Aku beli rokok pake itu.&#34;&#xA;&#xA;Usia si putra sulung dua puluh tahun saat pertama kali kepergok merokok diam-diam, di ruang jemuran pula. Waktu serasa berjalan terlampau cepat bagi perempuan itu. Kepalanya kembali memutar kenangan saat ia menimang si kecil pertama kali. Dulu, bayi itu cuma bisa menangis saat lapar dan buang air saja. Sekarang dia sudah tumbuh jadi laki-laki dewasa, sudah bisa cari uang tambahan sembari kuliah, sudah bisa membuat keputusan terkait benar atau tidaknya sebuah tindakan.&#xA;&#xA;&#34;Kamu udah gede ya, Mas.&#34; kepala si anak sulung kembali dielusnya, &#34;Sudah bisa cari uang sendiri, beli rokok juga. Ibu kok jadi takut.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Takut apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Takut Mas nggak butuh Ibu lagi.&#34;&#xA;&#xA;Ia tersentak saat tubuh Sunu mendadak menghambur ke pelukannya, memeluk badannya yang terlihat mungil di pelukan si anak laki-laki. &#34;Nggak. Siapa yang bilang gitu? Sunu masih butuh Ibuk...&#34;&#xA;&#xA;Keduanya menangis seiring dengan makin eratnya pelukan mereka. &#xA;&#xA;&#34;Aku janji deh nggak merokok lagi... supaya ibu nggak sedih.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ibu minta kamu berhenti merokok, emangnya?&#34;&#xA;&#xA;Si sulung bingung setengah mati. Maksudnya Ibu gimana sih? Ia berpikir semua pembicaraan ini akan berakhir dengan kekecewaan orangtua yang nggak bisa hilang dan dirinya nggak boleh merokok lagi. &#xA;&#xA;&#34;Kamu tau nggak, apa pedoman hidup ibu selama jadi orangtua?&#34; pertanyaan tersebut dibalas dengan gelengan. &#34;The Prophet punya Kahlil Gibran, tulisannya: Your children are not your children. You may strive to be like them, but seek not to make them like you.&#34;&#xA;&#xA;Nggak mudah buat seorang ibu untuk melihat anaknya punya pilihan yang berbeda, lebih lagi setelah puluhan tahun tinggal bersama dan diajari untuk menganut nilai yang serupa. Tapi, si anak nggak pernah minta untuk dilahirkan. Rasanya nggak etis memaksa mereka untuk memeluk paham dan nilai yang sama. &#xA;&#xA;&#34;Selama dua puluh tahun kamu bernapas, memangnya kamu selalu diem di rumahnya ibu terus?&#34; Lagi-lagi dibalas dengan gelengan. &#34;Ya, nggak. Wajar aja kalau kita punya paham yang beda. Di sini, ibu nggak merokok karena memang pengin hidup sehat. Tapi Mas, pasti punya alasan lain kenapa mau merokok padahal selama ini selalu dengar ibu koar-koar soal kesehatan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ibu nggak melarang kamu merokok. Toh, kamu udah gede. Tapi jujur aja ibu kecewa, lebih banyak ke diri sendiri sih. Kenapa Mas nggak cerita? Ibu salahnya di mana, ya? Kenapa ibu nggak siap kamu gede dan ngerasa sedih soal ini... Ibu justru, pengin minta maaf.&#34;&#xA;&#xA;Malam semakin dingin seiring dengan bertambahnya angka di jam dinding. Banyak kata yang ingin dikeluarkan si anak sulung, namun rasanya lidah kelu dan beku seperti suhu di sekitar yang turun perlahan-lahan. Hanya pelukan yang bisa ia berikan pada ibunya.&#xA;&#xA;&#34;Ibu nggak salah, nggak ada yang salah.&#34; Bahu yang dipeluk bergetar, &#34;Lain kali, aku bakal lebih terbuka sama ibu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan dipaksa ya, Mas. Ibu tahu semua orang butuh privasi.&#34;&#xA;&#xA;Semua manusia belajar hal yang baru setiap harinya. Seperti ibu yang meskipun sudah hidup puluhan tahun di dunia, tetap akan ada hal baru yang dipelajari setiap hari. Untuk percaya, memberikan ruang pada orang terdekat, untuk tidak menyalahkan diri sendiri. &#xA;&#xA;Ini kali pertamanya jadi manusia, jangan pernah lupa. Belajar dari suatu peristiwa, belajar dari kesalahan, adalah yang bikin manusia jadi manusia, kan?&#xA;&#xA;--h.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h3 id="kali-pertama-jadi-manusia-sunu">Kali Pertama Jadi Manusia (<a href="https://qayoozian.writeas.com/tag:Sunu" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Sunu</span></a>)</h3>

<p>Ibu suka lupa bahwa hidup yang ia jalani sekarang merupakan kali pertamanya menjadi manusia.

Banyak sekali kejadian yang membuatnya kembali berpikir ulang; mengenai keputusannya untuk setuju dijodohkan dengan bapak, batal sekolah doktoral dan memilih untuk punya dua orang anak, menolak dimutasi ke tempat lain karena punya keluarga di sini yang butuh sosok seorang ibu.</p>

<p>Lagi-lagi semua pertanyaan dan pengandaian yang ada di kepala cuma bisa dituang ke dalam buku catatan atau aplikasi untuk menulis dalam ponsel (Ibu terlalu takut cerita sama Bapak kemudian melukai hati lelaki itu). Semua catatan tersebut digunakannya sebagai pedoman hidup untuk melangkah dan melanjutkan sisa umur yang ada. Gunanya sama seperti jurnal ilmiah ketika sedang menulis skripsi, berfungsi sebagai landasan teori sebelum melangkah melakukan penelitian.</p>

<p>Waktu menunjukkan pukul tujuh malam ketika Ibu baru saja pulang kerja. Perempuan itu berpikir rumahnya kosong. Bapak masih dalam perjalanan menjemput si bungsu di rumah nenek, sedangkan si sulung masih sibuk dengan apapun yang melibatkan kegiatan kampus. Waktu yang tepat buat Ibu untuk minum soda di ruang jemuran sambil merenung dan menatap langit malam, jarang sekali ia punya waktu seperti ini setelah berkeluarga.</p>

<p>Beberapa saat kemudian Ibu sudah siap dengan soda di tangan. Namun ia sedikit terkejut saat sampai di ruang jemuran, dirinya malah melihat bayangan seseorang dengan rokok terselip di tangan. Entitas tersebut rupanya nggak sadar dengan keberadaan Ibu, yang pelan-pelan berjalan mendekat setelah meraih sapu di samping pintu sebagai alat perlindungan.</p>

<p>“Aduh!”</p>

<p>“Lho, Mas?”</p>

<p>“Ibuk?!”</p>

<p>Dalam kepala Ibu, berjuta-juta tanda tanya muncul seketika setelah melihat anak sulungnya, nampaknya sembunyi-sembunyi, sendirian, di ruang jemuran, sedang merokok. Ibu salah apa, ya? Bagian mana yang kurang dari cara mendidiknya sampai si anak sulung merokok diam-diam? Kenapa si sulung nggak sepenuhnya terbuka dengan dia atau bapaknya?</p>

<p>Ah, iya, akhirnya ia ingat. Ini pertama kalinya dia jadi manusia. Banyak sekali hal-hal yang dia belum tau, bahkan ketika usianya sudah mencapai setengah abad.</p>

<hr/>

<p>“Sakit, tau, buk!”</p>

<p>“Ya, maaf...” Ibu meringis sembari mengusap-usap punggung anak sulungnya yang baru saja ia pukul pakai gagang sapu, “Ibu kira ada maling.”</p>

<p>Si anak sulung mendengus, masih kesal karena dikira orang asing dengan niat jahat. “Mana ada maling sempet nyebat di rumah yang mau dicuri.”</p>

<p>“Refleks Ibu kalau ada orang asing langsung aja pukul dan serang supaya menjauh.” Seketika si perempuan tersenyum kecut, mengingat kebiasaannya yang tidak berubah bahkan setelah menikah dan punya anak.</p>

<p>Langit malam itu terlihat cantik dengan jutaan bintang berkelap-kelip, seperti langit kamar si anak sulung ketika masih bocah. Bedanya, bintang di kamar hanyalah benda plastik artifisial yang cahayanya habis setelah nyaris setahun ditempel di langit-langit kamar.</p>

<p>“Mas mau soda?”</p>

<p>“Boleh?”</p>

<p>“Kan ibu yang tawarin ke Mas Sunu.”</p>

<p>Si anak laki-laki masih menatap wajah ibunya ragu, meskipun nggak terlalu jelas mengingat sumber cahaya di situ hanya bintang di langit dan lampu jalan yang nggak seberapa terang. “Tapi mulut aku bau rokok.”</p>

<p>“Ya udah nggak apa-apa, dari mulut kamu juga.”</p>

<p>Sunu meraih soda di tangan ibu dan meminumnya seteguk, kembali memandang langit. “Setauku ibu nggak suka perokok.”</p>

<p>“Tau dari mana?”</p>

<p>“Ibu nggak merokok.”</p>

<p>Si ibu tertawa dengan kesimpulan yang baru saja diambil putranya. Memang sih, selama ini keluarga mereka menerapkan pola hidup sehat. Ibu nggak makan daging merah dan lebih memilih konsumsi makanan laut dibanding ayam. Bapak pun juga demikian, efek dari hidup bersama si Ibu.</p>

<p>“Mas kenapa nggak cerita sama Ibu?” tanya si perempuan yang lebih tua sambil mengelus rambut putranya.</p>

<p>Sebenarnya ia sudah tahu jawaban yang akan keluar dari mulut Sunu. Apalagi kalau bukan takut dimarahi? Takut membuatnya kesal? Dirinya juga pernah muda, pernah jadi seorang anak yang melakukan banyak hal diam-diam karena takut mendapat respon tidak diinginkan dari orang tua. Namun ia akan tetap bertanya meskipun tahu jawabannya. Perempuan itu penasaran dengan apa yang dirasakan putra sulungnya.</p>

<p>“Ya, nanti uang jajan aku dipotong.”</p>

<p>“Berarti ngaku dong, beli rokok pake uang jajan.”</p>

<p>“Awalnya iya.” Sunu kembali meminum soda milik Ibu, “Tapi sekarang kan aku ngeband, bu. Punya uang tambahan. Aku beli rokok pake itu.”</p>

<p>Usia si putra sulung dua puluh tahun saat pertama kali kepergok merokok diam-diam, di ruang jemuran pula. Waktu serasa berjalan terlampau cepat bagi perempuan itu. Kepalanya kembali memutar kenangan saat ia menimang si kecil pertama kali. Dulu, bayi itu cuma bisa menangis saat lapar dan buang air saja. Sekarang dia sudah tumbuh jadi laki-laki dewasa, sudah bisa cari uang tambahan sembari kuliah, sudah bisa membuat keputusan terkait benar atau tidaknya sebuah tindakan.</p>

<p>“Kamu udah gede ya, Mas.” kepala si anak sulung kembali dielusnya, “Sudah bisa cari uang sendiri, beli rokok juga. Ibu kok jadi takut.”</p>

<p>“Takut apa?”</p>

<p>“Takut Mas nggak butuh Ibu lagi.”</p>

<p>Ia tersentak saat tubuh Sunu mendadak menghambur ke pelukannya, memeluk badannya yang terlihat mungil di pelukan si anak laki-laki. “Nggak. Siapa yang bilang gitu? Sunu masih butuh Ibuk...”</p>

<p>Keduanya menangis seiring dengan makin eratnya pelukan mereka.</p>

<p>“Aku janji deh nggak merokok lagi... supaya ibu nggak sedih.”</p>

<p>“Ibu minta kamu berhenti merokok, emangnya?”</p>

<p>Si sulung bingung setengah mati. <em>Maksudnya Ibu gimana sih?</em> Ia berpikir semua pembicaraan ini akan berakhir dengan kekecewaan orangtua yang nggak bisa hilang dan dirinya nggak boleh merokok lagi.</p>

<p>“Kamu tau nggak, apa pedoman hidup ibu selama jadi orangtua?” pertanyaan tersebut dibalas dengan gelengan. “<em>The Prophet</em> punya Kahlil Gibran, tulisannya: <em>Your children are not your children. You may strive to be like them, but seek not to make them like you.</em>“</p>

<p>Nggak mudah buat seorang ibu untuk melihat anaknya punya pilihan yang berbeda, lebih lagi setelah puluhan tahun tinggal bersama dan diajari untuk menganut nilai yang serupa. Tapi, si anak nggak pernah minta untuk dilahirkan. Rasanya nggak etis memaksa mereka untuk memeluk paham dan nilai yang sama.</p>

<p>“Selama dua puluh tahun kamu bernapas, memangnya kamu selalu diem di rumahnya ibu terus?” Lagi-lagi dibalas dengan gelengan. “Ya, nggak. Wajar aja kalau kita punya paham yang beda. Di sini, ibu nggak merokok karena memang pengin hidup sehat. Tapi Mas, pasti punya alasan lain kenapa mau merokok padahal selama ini selalu dengar ibu koar-koar soal kesehatan.”</p>

<p>“Iya...”</p>

<p>“Ibu nggak melarang kamu merokok. Toh, kamu udah gede. Tapi jujur aja ibu kecewa, lebih banyak ke diri sendiri sih. Kenapa Mas nggak cerita? Ibu salahnya di mana, ya? Kenapa ibu nggak siap kamu gede dan ngerasa sedih soal ini... Ibu justru, pengin minta maaf.”</p>

<p>Malam semakin dingin seiring dengan bertambahnya angka di jam dinding. Banyak kata yang ingin dikeluarkan si anak sulung, namun rasanya lidah kelu dan beku seperti suhu di sekitar yang turun perlahan-lahan. Hanya pelukan yang bisa ia berikan pada ibunya.</p>

<p>“Ibu nggak salah, nggak ada yang salah.” Bahu yang dipeluk bergetar, “Lain kali, aku bakal lebih terbuka sama ibu.”</p>

<p>“Jangan dipaksa ya, Mas. Ibu tahu semua orang butuh privasi.”</p>

<p>Semua manusia belajar hal yang baru setiap harinya. Seperti ibu yang meskipun sudah hidup puluhan tahun di dunia, tetap akan ada hal baru yang dipelajari setiap hari. Untuk percaya, memberikan ruang pada orang terdekat, untuk tidak menyalahkan diri sendiri.</p>

<p>Ini kali pertamanya jadi manusia, jangan pernah lupa. Belajar dari suatu peristiwa, belajar dari kesalahan, adalah yang bikin manusia jadi manusia, kan?</p>

<p>—h.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qayoozian.writeas.com/kali-pertama-jadi-manusia</guid>
      <pubDate>Fri, 10 Jul 2020 06:50:46 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>